Ditulis oleh Yudin Taqyudin untuk bahan kajian di MT Karima Shidqia
Belajar tentang cukup, syukur, dan kebahagiaan sejati dalam Islam
Di tengah harga kebutuhan yang kian naik dan linimasa media sosial yang penuh pamer gaya hidup, banyak orang merasa hidupnya “kurang”. Padahal, tidak sedikit dari kita yang secara lahir tampak sederhana — bahkan saldo rekening sering menipis — namun hidupnya tenang, ringan, dan penuh makna. Dalam Islam, kondisi ini bukan kontradiksi. Ia justru mencerminkan satu nilai penting: kaya hati meski saldo tipis.
Kaya menurut Islam: bukan soal angka
Islam tidak menafikan pentingnya harta. Namun, Islam menolak menjadikan harta sebagai ukuran utama kebahagiaan. Rasulullah ﷺ bersabda:
“لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ”
“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya (cukup)-nya jiwa.” (HR. al-Bukhari nomor 6446)
Hadits ini menjadi fondasi etika ekonomi Islam: kekayaan sejati bersumber dari batin yang merasa cukup (qana’ah), bukan dari kepemilikan tanpa batas.
Al-Qur’an menegaskan prinsip keseimbangan ini:
وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia…”
(QS. Al-Qashash [28]: 77)
Artinya, Islam tidak mengajarkan asketisme ekstrem, tetapi juga menolak konsumerisme rakus. Dunia cukup di tangan, akhirat tetap di hati.
Qana’ah: kunci hati yang kaya
Imam al-Ghazali dalam karya monumentalnya Ihya’ ‘Ulum al-Din menjelaskan bahwa qana’ah adalah sikap menerima kecukupan rezeki dengan lapang dada, tanpa memadamkan ikhtiar. Ia menulis:
“القناعة كنز لا يفنى”
“Qana’ah adalah harta simpanan yang tidak akan habis.”
Menurut al-Ghazali, orang yang qana’ah memiliki dua kelebihan sekaligus:
- Batin yang tenang, karena tidak diperbudak keinginan.
- Kebebasan jiwa, karena tidak tergantung pada penilaian manusia.
Sahabat Rasulullah SAW sekaligus salah satu khulafaurrasyidin yakni Umar bin Khattab RA menyatakan:
لَا تَجْزَعْ مِنْ قَلِيلٍ الرِّزْقِ، فَإِنَّ الْقَلِيلَ لَا يَتَّفِقُ، وَالْقَفِيصُ الَّذِي لَا يُؤَثِّرُ بِأَجَلِ اللَّهِ وَلَا رِزْقِهِ
“Jangan bersedih atas sedikitnya rezeki, karena sedikit yang Allah berikan pasti mencukupi, dan tidak ada yang mempengaruhi ajal maupun rezeki kecuali ketetapan Allah.”
Logika sederhana: mengapa hati kaya lebih stabil?
Secara rasional, hati yang kaya lebih tahan guncangan dibanding dompet yang tebal. Sebab:
- Harta mudah hilang, nilai hidup tidak.
Krisis ekonomi, PHK, atau musibah bisa menggerus materi. Namun makna hidup, iman, dan relasi sosial justru menjadi penyangga mental. - Keinginan tak terbatas, sumber daya terbatas.
Bila kebahagiaan disandarkan pada pemuasan keinginan, manusia akan selalu defisit. Qana’ah memutus lingkaran itu. - Memberi justru memperkaya jiwa.
Al-Qur’an mengibaratkan sedekah seperti benih yang berlipat ganda hasilnya (QS. Al-Baqarah [2]: 261). Secara psikologis, memberi meningkatkan rasa bermakna dan kebahagiaan jangka panjang.
Potret kekinian: saldo tipis, hidup tetap bernilai
Kita sering menjumpai figur seperti guru ngaji, relawan masjid, atau pekerja sektor informal yang hidupnya sederhana. Penghasilan mereka pas-pasan, tetapi wajahnya teduh. Mereka rutin berbagi, aktif di masyarakat, dan dekat dengan Al-Qur’an.
Sebaliknya, tidak jarang kita melihat orang dengan gaji besar namun hidupnya penuh kecemasan: takut kehilangan status, terjebak cicilan gaya hidup, dan lelah membandingkan diri.
Fenomena ini sejalan dengan peringatan Allah:
اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ
“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, dan saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam banyaknya harta dan anak keturunan.…”
(QS. Al-Hadid [57]: 20)
Ayat ini bukan larangan menikmati dunia, tetapi alarm agar kita tidak tertipu olehnya.
Menjadi “kaya” secara Islami: langkah praktis
Agar saldo tipis tidak berubah menjadi hati yang sempit, Islam menawarkan jalan yang realistis:
- Perbaiki niat bekerja.
Mencari nafkah diniatkan sebagai ibadah, bukan sekadar mengejar pengakuan. - Biasakan syukur harian.
Syukur melatih fokus pada apa yang ada, bukan yang belum dimiliki. - Sedekah meski kecil.
Konsistensi lebih utama daripada nominal. - Sederhana dalam gaya hidup.
Imam asy-Syafi’i pernah mengingatkan bahwa berlebihan dalam dunia sering berbuah penyesalan di akhirat.
Penutup
“Saldo tipis tapi hati kaya” bukan romantisasi kemiskinan, melainkan cara pandang Islami terhadap kebahagiaan. Islam tidak memusuhi harta, tetapi menundukkannya agar tidak menguasai hati. Dengan qana’ah, syukur, dan orientasi akhirat, seseorang bisa hidup bermakna meski secara materi terbatas.
Pada akhirnya, yang membuat manusia mulia bukanlah berapa yang ia simpan, tetapi berapa yang ia syukuri dan bagikan. Dan itulah kekayaan yang tak pernah benar-benar habis.