Judul kitab : Jam’u Nihayah fi Bad’i Al-Khairi wa Al-Ghayah
Penulis : Imam Al-hafizh Abi Muhammad Abdillah bin Sa’di bin Sa’id bin Abi Jamrah Al-Azdi Al Andalusi Al-Maliki.
Pentahqiq : Syekh Sami bin Anwar Khalil Al-Jahin.
Kategori : Hadits
Penerbit : Dar Al-Minhaj – Jeddah.
Tebal : 400 Halaman.
“Menyampaikan dan menghafal hadis adalah salah satu wasilah terdekat untuk menuju keridhaan Allah, sebagaimana sabda Nabi ‘barang siapa yang menyampaikan satu hadis, dengannya terlaksananya sunnah atau bid’ah telah tertolak, maka baginya surga’ ”. Tulis pengarang pada muqaddimahnya.
Dilihat dari judulnya diketahui bahwa kitab ini ialah jenis kitab ringkasan, dari kitab Al Jam’u As-shahih Al-musnad Al Mukhtasar min Umuri Rasulalillahi wa Sunnanihi wa Ayyamihi atau yang lebih dikenal dengan Shahih Bukhari, Shahih Bukhari mencakupi 7275 hadis berhasil diringkas menjadi 296 hadis.
Ulama bersepakat bahwasanya Shahih Bukhari dan Shahih Muslim adalah kitab ter-shahih (terpercaya) setelah Al-Quran, dan ketika terjadi perbedaan pendapat di antara kedua Shahih terbebut (Bukhari dan Muslim). Maka jumhur ulama lebih mendahulukan Shahih Bukhari kemudian Shahih Muslim.
Selain mencakup hadis-hadis yang shahih, Shahih Bukhari juga memiliki karamah di antaranya jika seseorang sedang dalam masalah apabila dibacakan Shahih Bukhari maka dia akan diringankan Allah dari masalah tersebut.
Menurut pengalaman umat terdahulu apabila dibawakan Shahih Bukhari di dalam kapal maka kapal itu dengan izin Allah tidak akan tenggelam.
“Kalaulah betul betul berlaku adil terhadap Shahih Bukhari niscaya ia tidak akan ditulis kecuali dengan tinta emas”, begitulah pujian ulama terhadap kitab Shahih Bukhari.
Imam Bukhari mengarang kitab ini dengan melakukan perjalan selama 16 tahun. Bahkan beliau memiliki syarat-syarat yang ketat dalam menyeleksi hadis shahih-nya sehingga terpilihlah 7275 hadis saringan dari 600.000 hadis.
Selain meringkas jumlah hadis, kitab yang populer dengan sebutan Mukhtashar Abi Jamrah ini juga meringkas panjangnya sanad yang menyambungkan antara Imam Bukhari dan Rasulullah, atau dapat dikatakan hanya menyebutkan perawi dari kalangan shahabat saja guna untuk memudahkan dalam penghafalan.
Kitab ini diawali dengan bab yang menceritakan bagaimana wahyu diturunkan dan diakhiri dengan bab yang menceritakan bagaimana umat Islam akan memasuki surga Allah Ta’ala. Itu sebabnya kitab ini dinamakan Jam’u Nihayah fi Bad’i Al-Khairi wa Al-Ghayah atau kumpulan (hadis-hadis) pengakhiran pada permulaan yang baik (wahyu diturunkan) dan akhiran yang baik (umat Islam masuk surga).
Pengarang kitab ini merupakan ulama mazhab Maliki asal Andalusia (Spanyol) dan salah satu Aulia Allah. Suatu ketika Imam Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari bermimpi bertemu Rasulullah SAW di mana beliau bertanya, “Kamu tidak menziarahi Imam Timur dan Barat?”. Kemudian Imam Ibnu ‘Athaillah bertanya kembali, “Siapa beliau?” Rasulullah SAW dalam mimpi tersebut pun menjawab, “Dia adalah Ibn Abi Jamrah1”.
Imam Ibn Abi Jamrah pula sering bermimpi bertemu Rasulullah dan pada mimpi tersebut Rasululahpun menyuruh Ibnu Abi Jamrah untuk mensyarah dari kitab apa yang selesai diringkasnya, syarahan tersebut dinamakan Bahjatun Nufus, ketika beliau menulis Bahjatun Nufus beliau sangat sering didatangi Rasulullah dalam mimpinya sehingga beliaupun menulis kitab yang menghimpun seluruh mimpi beliau ketika mengarang kitab Bahjatun Nufus yang diberi nama Al-mar’i wal Hisan2.
Kitab ini sangatlah cocok dipelajari dan dihafal sebelum mempelajari kitabussittah (Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Ibnu Majah, Sunan Abi Daud, Sunan At-Tirmizi dan Sunan An-Nasai). Dikarenakan kitabussittah ini memiliki ribuan hadis didalamnya dengan itu akan menggoyahkan semangat pelajar, maka dengan hadirnya kitab ini bisa menjadi tangga untuk mempelajari kitab kitab hadis yang besar lainnya.
Cetakan Dar Al-Minhaj-Jeddah merupakan salah satu cetakan terbaik bagi kitab Mukhtasar Shahih Bukhari, selain memiliki tahqiqan yang teliti, pentahqiq Syekh Abu Munzir pula mendatangkan faidah-faidah dari hadis itu yang dipetik langsung dari kitab Fathul Bari syarah Shahih bukhari milik Syekh Ibnu Hajar Al-Asqalani dan menjelaskan arti-arti dari kosakata yang mengandung Homonim (banyak arti) yang diambil dari syarah mukhtasar ini milik Syekh Syarnubi.
Syarah Syekh Syarnubi terhadap Mukhtasar Ibnu Abi Jamrah termasuk syarah yang masyhur, syarah ini lebih memperhatikan dari segi bahasa, baik itu I’rabnya, syakal (baris dari huruf arab), dan menjelaskan kata kata yang mengandung Homonim dan lainnya.
Selain memerhatikan dari segi faidah dan kosakata, pentahqiq pula mendatangkan sanad dari hadis Mu’allaq pada Shahih Bukhari itu, sebagaimana pada bab ilmu (68) hadis ke 9 Imam Bukhari tidak menyebutkan sanad hadis ini kemudian pentahqiq Abu Munzir menyebutkan sanadnya yang berasal dari Abi Hurairah.
Pada hadis yang ke 47 (halaman 103) pengarang Imam Ibnu Abi Jamrah mendatangkan hadist mutasyabihat (hadis yang perlu ditakwil) Meski demikian hadis tersebut telah dijelaskan takwilannya oleh pentahqiq Abu Munzir sehingga dapat mengurangi kesulitan dalam memahami nash hadist yang dimaksud. Waallahu a’lam.[]
1 Maqam beliau terletak di Muqattam, Cairo. berdekatan dengan maqam Ibnu Ataillah.
2 Biasanya kitab Mar’i wal Hisan ini didapati di bagian akhir kitab Bahjatun Nufus itu sendiri.