Ditulis oleh Yudin Taqyudin, M.Sos.
Dalam hiruk-pikuk dunia profesional yang serba cepat dan kompetitif, banyak dari kita terjebak dalam rutinitas yang menguras energi tanpa memberikan makna mendalam. Kita mengejar target demi target, mendaki tangga karier, namun sering merasa hampa di puncak kesuksesan. Di sinilah konsep tasawuf klasik tentang takhalli, tahalli, dan tajalli menawarkan sebuah perspektif yang menarik—bukan sebagai pelarian mistis dari realitas, melainkan sebagai kerangka kerja spiritual yang relevan untuk pengembangan diri profesional di abad ke-21.
Takhalli, yang secara harfiah berarti “pengosongan” atau “pembersihan diri”, adalah tahap pertama yang mengajak kita untuk melepaskan sifat-sifat negatif yang menghambat pertumbuhan. Di dunia kerja modern, ini bukan soal meninggalkan ambisi atau kompetisi, melainkan tentang membebaskan diri dari ego yang berlebihan, iri hati pada kesuksesan rekan kerja, sikap defensif yang menghalangi kritik konstruktif, atau keserakahan yang membuat kita kehilangan integritas. Seorang profesional yang mampu melakukan takhalli adalah mereka yang berani introspeksi dan mengakui kekurangan tanpa merasa terancam.
Praktik takhalli dalam konteks profesional bisa dimulai dari hal-hal sederhana namun menantang. Misalnya, belajar menerima feedback tanpa langsung berkelit atau menyalahkan orang lain. Atau menahan diri untuk tidak selalu ingin menjadi yang paling menonjol dalam setiap rapat. Ini juga termasuk membuang kebiasaan menunda pekerjaan karena takut gagal, atau melepaskan kecenderungan untuk meremehkan kontribusi tim. Proses ini memang tidak nyaman karena mengharuskan kita menghadapi bayangan gelap dalam diri sendiri, namun justru di sinilah fondasi kepemimpinan autentik mulai dibangun.
Setelah membersihkan diri dari sifat-sifat yang merusak, tahap berikutnya adalah tahalli—mengisi kekosongan itu dengan nilai-nilai positif dan kebajikan. Dalam dunia profesional, tahalli berarti secara aktif mengembangkan karakter seperti integritas, empati, kerendahan hati, keteguhan, dan kebijaksanaan. Ini bukan sekadar mengikuti kursus pengembangan diri atau membaca buku motivasi, melainkan komitmen konsisten untuk mempraktikkan nilai-nilai tersebut dalam keputusan sehari-hari, bahkan ketika tidak ada yang melihat.
Tahalli di tempat kerja modern bisa diwujudkan melalui tindakan konkret yang mengubah kultur organisasi. Seorang manajer yang mempraktikkan tahalli akan memilih jujur pada klien tentang keterbatasan produknya daripada berbohong demi closing penjualan. Seorang pemimpin tim akan membagi kredit kesuksesan pada anggota timnya alih-alih mengklaim semua pencapaian untuk dirinya sendiri. Dalam rapat-rapat penting, mereka akan mendengarkan dengan sungguh-sungguh pada pendapat junior staf, bukan hanya pada suara yang paling keras atau paling senior. Proses tahalli ini mengubah profesional dari sekadar pelaku tugas menjadi agen perubahan positif.
Yang menarik dari tahalli adalah bahwa ia tidak melawan ambisi profesional atau tujuan bisnis, justru memperkuatnya dengan fondasi etis yang kokoh. Sebuah perusahaan yang dipimpin oleh orang-orang yang telah melalui proses tahalli cenderung membangun kepercayaan jangka panjang dengan stakeholder, menciptakan lingkungan kerja yang sehat, dan menghasilkan inovasi yang berkelanjutan karena tidak digerakkan oleh keserakahan jangka pendek. Nilai-nilai positif yang ditanamkan melalui tahalli menjadi competitive advantage yang genuine di tengah krisis kepercayaan terhadap institusi korporat.
Tahap puncak dari perjalanan spiritual ini adalah tajalli—manifestasi atau penyinaran cahaya kebenaran dalam diri seseorang. Dalam konteks profesional modern, tajalli adalah ketika nilai-nilai yang telah diinternalisasi melalui takhalli dan tahalli memancar keluar secara alami dalam setiap aspek kehidupan kerja kita. Ini bukan tentang kesempurnaan, melainkan tentang keautentikan—ketika tidak ada lagi jarak antara nilai yang kita anut dengan tindakan yang kita lakukan, ketika integritas menjadi second nature, bukan sekadar strategi reputasi.
Profesional yang mencapai tajalli memiliki dampak transformatif pada lingkungan sekitarnya tanpa perlu berusaha keras untuk terlihat baik. Kehadiran mereka menciptakan rasa aman bagi tim untuk bereksperimen dan mengambil risiko. Keputusan mereka membawa ketenangan karena didasarkan pada prinsip yang jelas, bukan kepentingan politik. Mereka menjadi mentor alami karena orang lain merasakan keaslian dalam bimbingan mereka. Tajalli di dunia kerja modern tidak membuat seseorang menjadi sempurna atau bebas dari kesalahan, namun memberikan kejernihan untuk mengakui kesalahan dengan cepat dan belajar darinya dengan tulus.
Perjalanan takhalli, tahalli, dan tajalli bukanlah proses linear dengan garis finish yang jelas. Dalam realitas profesional yang dinamis, kita mungkin perlu kembali ke tahap takhalli setiap kali menghadapi tantangan baru atau ketika ego kita kembali menggelembung setelah pencapaian tertentu. Yang penting adalah kesadaran bahwa pengembangan profesional sejati bukan hanya soal akumulasi skills dan pencapaian eksternal, melainkan juga tentang transformasi internal yang berkelanjutan. Di era modern yang penuh dengan krisis makna dan burnout, konsep spiritual klasik ini menawarkan kompas untuk menavigasi karier dengan cara yang tidak hanya sukses secara material, tetapi juga bermakna dan memberi dampak positif bagi dunia di sekitar kita.