Posted in

Semangat Belajar dan Cara Memahami Ilmu dengan Bertanya

Kajian Hadits No. 15 Mukhtaṣar Ibn Abī Jamrah


Pendahuluan

Islam menempatkan ilmu pada kedudukan yang sangat tinggi. Ilmu bukan sekadar kumpulan informasi, tetapi sarana untuk mengenal Allah, memahami agama, membedakan antara kebenaran dan kebatilan, serta membimbing manusia agar mampu menjalani kehidupan sesuai petunjuk-Nya.

Namun, memperoleh ilmu tidak cukup hanya dengan mendengar. Seorang penuntut ilmu membutuhkan semangat belajar, ketekunan, keberanian bertanya, ketelitian memahami, adab kepada guru, kemampuan melakukan klarifikasi, dan kesungguhan mengamalkan ilmu.

Salah satu teladan terbaik dalam hal tersebut adalah Sayyidah ‘Aisyah رضي الله عنها, Ummul Mu’minin sekaligus salah seorang ulama besar dari kalangan sahabat.

Hal tersebut tercermin sangat jelas dalam Hadits No. 15 Mukhtaṣar Ibn Abī Jamrah. Menariknya, bagian awal hadits justru menceritakan karakter ‘Aisyah dalam belajar:

كَانَتْ لَا تَسْمَعُ شَيْئًا لَا تَعْرِفُهُ إِلَّا رَاجَعَتْ فِيهِ حَتَّى تَعْرِفَهُ

“Beliau tidak mendengar sesuatu yang belum beliau pahami kecuali beliau mengulanginya sampai beliau memahaminya.”

Kemudian hadits berlanjut dengan pembahasan tentang hisab pada hari kiamat. (Scribd)

Dengan demikian, hadits ini memiliki dua dimensi pendidikan yang sangat penting:

  1. bagaimana seorang Muslim belajar dan memperoleh ilmu, dan
  2. bagaimana memahami konsep hisab di akhirat.

A. Teks Hadits

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

كَانَتْ لَا تَسْمَعُ شَيْئًا لَا تَعْرِفُهُ إِلَّا رَاجَعَتْ فِيهِ حَتَّى تَعْرِفَهُ، وَأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ حُوسِبَ عُذِّبَ، قَالَتْ عَائِشَةُ: فَقُلْتُ: أَوَلَيْسَ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا، قَالَتْ: فَقَالَ: إِنَّمَا ذَلِكِ الْعَرْضُ، وَلَكِنْ مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَهْلِكْ.

Terjemah

Dari ‘Aisyah, istri Nabi ﷺ, beliau berkata:

“Apabila beliau mendengar sesuatu yang belum beliau pahami, beliau selalu mengulanginya sampai beliau memahaminya.

Dan Nabi ﷺ bersabda:

‘Barang siapa yang dihisab, niscaya ia akan diazab.’

‘Aisyah berkata:

‘Aku bertanya, “Bukankah Allah عز وجل berfirman: Maka dia akan dihisab dengan hisab yang mudah?”

Beliau menjawab:

‘Sesungguhnya yang demikian itu adalah al-‘arḍ (sekadar diperlihatkan amal). Akan tetapi, barang siapa yang diperiksa hisabnya secara mendalam, ia akan binasa.’”

Hadits ini tercantum sebagai Hadits No. 15 dalam Mukhtaṣar Ibn Abī Jamrah. (Scribd)


B. Takhrij Hadits dan Derajatnya

Hadits ini pada asalnya merupakan hadits dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, no. 103, pada:

بَابُ مَنْ سَمِعَ شَيْئًا فَرَاجَعَ حَتَّى يَعْرِفَهُ

“Bab tentang seseorang yang mendengar sesuatu kemudian mengulanginya sampai memahaminya.”

Sanad al-Bukhārī:

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ، قَالَ: أَخْبَرَنَا نَافِعُ بْنُ عُمَرَ، قَالَ: حَدَّثَنِي ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ، أَنَّ عَائِشَةَ…

Dengan demikian:

al-Bukhārī → Sa‘īd bin Abī Maryam → Nāfi‘ bin ‘Umar → Ibn Abī Mulaikah → ‘Āisyah → Nabi ﷺ. (Konsultasi Agama Islam Online)

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim, sehingga kedudukannya:

صَحِيحٌ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Shahih dan muttafaq ‘alaih.

Dengan demikian, Hadits No. 15 Mukhtaṣar Ibn Abī Jamrah bukan hadits dha‘if atau sekadar hasan, tetapi berasal dari hadits shahih yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.


C. Keistimewaan Susunan Hadits Ini

Ada sesuatu yang sangat menarik.

Hadits dimulai dengan:

كَانَتْ لَا تَسْمَعُ شَيْئًا لَا تَعْرِفُهُ…

“Beliau tidak mendengar sesuatu yang belum beliau pahami…”

Baru kemudian masuk kepada persoalan:

مَنْ حُوسِبَ عُذِّبَ

“Barang siapa dihisab akan diazab.”

Artinya, bagi seorang pembaca Mukhtaṣar Ibn Abī Jamrah, hadits ini tidak hanya berbicara tentang hari kiamat, tetapi juga mengajarkan bagaimana seorang penuntut ilmu harus bersikap ketika mendengar sesuatu yang belum dipahaminya.

Bahkan Imam al-Bukhari menempatkan hadits ini di Kitab al-‘Ilm, dengan bab yang secara eksplisit berbicara tentang mengulang pertanyaan sampai memahami sesuatu. (Konsultasi Agama Islam Online)


D. Metode Belajar Sayyidah ‘Aisyah رضي الله عنها

1. Mendengar dengan penuh perhatian

Langkah pertama adalah:

السَّمَاعُ

mendengar.

Tetapi mendengar yang dimaksud bukan sekadar suara masuk ke telinga. ‘Aisyah mendengar dengan perhatian dan kesadaran.

Seorang penuntut ilmu harus memiliki:

  • perhatian,
  • konsentrasi,
  • kesungguhan,
  • dan kesiapan mental untuk menerima ilmu.

2. Tidak malu mengatakan “saya belum paham”

Ini merupakan salah satu pelajaran paling besar.

‘Aisyah tidak membiarkan sesuatu yang belum dipahami berlalu begitu saja.

لَا تَسْمَعُ شَيْئًا لَا تَعْرِفُهُ

“Tidak mendengar sesuatu yang belum beliau ketahui…”

Ini menunjukkan kejujuran intelektual.

Seorang pelajar harus berani berkata:

“Saya belum memahami.”

Karena mengatakan “saya belum tahu” jauh lebih ilmiah daripada berpura-pura tahu.


3. Bertanya kepada guru

Kemudian:

رَاجَعَتْ فِيهِ

Beliau melakukan murāja‘ah terhadap persoalan itu.

Artinya beliau mengulang, meminta penjelasan, dan melakukan klarifikasi.

Inilah semangat:

السُّؤَالُ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ

bertanya dalam rangka mencari ilmu.

Bertanya bukan tanda kebodohan.

Sebaliknya, tidak mau bertanya ketika tidak memahami justru dapat menyebabkan kesalahan pemahaman.


4. Bertanya sampai benar-benar memahami

Tujuan pertanyaannya bukan sekadar mendapatkan jawaban.

Perhatikan:

حَتَّى تَعْرِفَهُ

“sampai beliau memahaminya.”

Jadi target belajar adalah:

الفهم — pemahaman.

Bukan sekadar:

الحفظ — hafalan.

Hafalan penting, tetapi ilmu yang sempurna membutuhkan pemahaman.


5. Menghubungkan satu dalil dengan dalil lainnya

Dalam hadits ini ‘Aisyah mendengar:

مَنْ حُوسِبَ عُذِّبَ

Kemudian beliau mengingat ayat:

فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا

Beliau kemudian meminta penjelasan kepada Nabi ﷺ.

Ini merupakan bentuk menghubungkan dalil dengan dalil.

Metode ini sangat penting dalam studi Islam:

Jangan memahami satu nash secara terisolasi apabila terdapat nash lain yang berkaitan.


6. Kritis tetapi tetap beradab

‘Aisyah mengajukan pertanyaan yang sangat kritis.

Namun cara beliau tetap penuh adab:

أَوَلَيْسَ يَقُولُ اللَّهُ…؟

“Bukankah Allah berfirman…?”

Ini merupakan model critical thinking yang Islami.

Islam tidak melarang pertanyaan kritis.

Yang dilarang adalah:

  • kesombongan,
  • debat kusir,
  • merendahkan guru,
  • mencari-cari kesalahan,
  • atau bertanya bukan untuk mencari kebenaran.

E. Adab Menuntut Ilmu yang Dapat Diambil dari Hadits

Dari teladan ‘Aisyah رضي الله عنها, sekurang-kurangnya terdapat beberapa adab:

1. Ikhlas

Menuntut ilmu harus ditujukan untuk mencari ridha Allah.

2. Bersungguh-sungguh

Tidak mudah berhenti ketika menghadapi kesulitan.

3. Tidak malu bertanya

Ketidaktahuan bukan aib; mempertahankan ketidaktahuan karena gengsi adalah masalah.

4. Bertanya dengan sopan

Pertanyaan boleh kritis tetapi tetap beradab.

5. Tidak tergesa-gesa menyimpulkan

Dengarkan secara utuh sebelum mengambil kesimpulan.

6. Melakukan tabayyun

Pastikan informasi benar sebelum diterima dan disebarkan.

7. Mengulang pelajaran

Murāja‘ah adalah bagian penting dari proses memperoleh ilmu.

8. Mencari pemahaman

Jangan berhenti pada hafalan.

9. Mengamalkan ilmu

Ilmu harus menghasilkan perubahan perilaku.

10. Mengajarkan kembali

Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang ditransmisikan dan memberi manfaat kepada orang lain.


F. ‘Aisyah رضي الله عنها: Dari Murid Menjadi Guru

Kehebatan ‘Aisyah tidak berhenti pada kemampuannya belajar dari Nabi ﷺ.

Setelah Rasulullah ﷺ wafat, beliau menjadi salah satu rujukan utama ilmu Islam.

Para sahabat dan tabi’in datang kepadanya untuk menanyakan berbagai persoalan:

  • hadis,
  • fiqih,
  • tafsir,
  • sejarah kehidupan Nabi ﷺ,
  • ibadah,
  • persoalan keluarga,
  • dan berbagai persoalan keagamaan lainnya.

Di antara murid dan periwayat ilmu dari ‘Aisyah adalah:

  • ‘Urwah bin az-Zubair,
  • al-Qasim bin Muhammad,
  • Masruq,
  • ‘Amrah binti ‘Abdurrahman.

Dengan demikian proses pendidikannya dapat digambarkan:

تَعَلَّمَتْ → فَهِمَتْ → حَفِظَتْ → عَمِلَتْ → عَلَّمَتْ

Belajar → memahami → mengingat → mengamalkan → mengajarkan.

Inilah siklus ilmu yang ideal.


G. Keberanian Bertanya dan Tradisi Perempuan dalam Menuntut Ilmu

Ada hadis lain yang sangat penting untuk melengkapi kajian ini.

‘Aisyah رضي الله عنها berkata:

نِعْمَ النِّسَاءُ نِسَاءُ الْأَنْصَارِ، لَمْ يَمْنَعْهُنَّ الْحَيَاءُ أَنْ يَتَفَقَّهْنَ فِي الدِّينِ

“Seutama-baik wanita adalah wanita Anshar. Rasa malu tidak menghalangi mereka untuk memahami agama.”

Imam al-Bukhari memasukkan riwayat ini dalam Kitab al-‘Ilm pada pembahasan tentang rasa malu dalam menuntut ilmu.

Ini merupakan prinsip pendidikan yang sangat kuat:

الْحَيَاءُ لَا يَمْنَعُ مِنْ طَلَبِ الْعِلْمِ

“Rasa malu tidak boleh menjadi penghalang dalam mencari ilmu.”

Tentu yang dimaksud bukan menghilangkan rasa malu sebagai akhlak, tetapi tidak menjadikan rasa malu sebagai alasan untuk tidak bertanya tentang sesuatu yang dibutuhkan untuk memahami agama.


H. Perbedaan antara Bertanya untuk Ilmu dan Bertanya untuk Debat

Hadits ini juga mengajarkan pentingnya niat dalam bertanya.

Ada pertanyaan yang lahir dari:

الرَّغْبَةُ فِي الْفَهْمِ

keinginan untuk memahami.

Dan ada pertanyaan yang lahir dari:

الرَّغْبَةُ فِي الْجِدَالِ

keinginan untuk berdebat.

Model ‘Aisyah adalah yang pertama.

Beliau bertanya karena ingin memahami bagaimana ayat Al-Qur’an dan sabda Nabi ﷺ dapat dipahami secara benar.

Maka:

Pertanyaan yang baik melahirkan ilmu; pertanyaan yang didorong kesombongan hanya melahirkan perdebatan.


I. Memahami Bagian Kedua Hadits: Hisab

Setelah memberikan gambaran tentang metode belajar ‘Aisyah, hadits ini masuk kepada persoalan hisab.

Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ حُوسِبَ عُذِّبَ

“Barang siapa dihisab, ia akan diazab.”

‘Aisyah kemudian mengajukan pertanyaan berdasarkan QS Al-Insyiqaq ayat 8:

فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا

“Maka ia akan dihisab dengan hisab yang mudah.”

Nabi ﷺ menjelaskan:

إِنَّمَا ذَلِكِ الْعَرْضُ

“Itu hanyalah al-‘arḍ.”

Yakni amal diperlihatkan kepada seorang mukmin tanpa pemeriksaan yang menyulitkan.

Sedangkan:

مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَهْلِكْ

“Barang siapa yang diperiksa hisabnya secara mendalam, ia akan binasa.”


J. Apa Makna Al-‘Arḍ dan Al-Munāqasyah?

العَرْض — al-‘Arḍ

Amal diperlihatkan.

Tidak berarti setiap amal diperdebatkan secara rinci.

المُنَاقَشَة — al-Munāqasyah

Pemeriksaan secara detail dan mendalam.

Seseorang diminta mempertanggungjawabkan secara rinci amal dan kesalahannya.

Karena manusia memiliki banyak kekurangan, apabila seluruh amalnya diperiksa secara detail, maka keselamatannya sangat berat.

Karena itu, seorang mukmin sangat membutuhkan:

رَحْمَةُ اللهِ

rahmat Allah.


K. Hubungan Dua Tema Hadits

Sekilas tampak bahwa hadits ini berbicara tentang dua hal yang berbeda:

Pertama: cara ‘Aisyah belajar.

Kedua: hisab pada hari kiamat.

Tetapi keduanya dapat dihubungkan melalui satu prinsip:

Manusia harus bertanggung jawab terhadap apa yang diketahuinya dan apa yang dilakukannya.

Karena itu, Islam memerintahkan manusia untuk belajar dengan benar, agar amalnya juga benar.

Ilmu yang benar melahirkan amal yang benar.

Dan amal akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Maka rangkaiannya:

العِلْم → الفَهْم → العَمَل → الحِسَاب

Ilmu → pemahaman → amal → pertanggungjawaban.


L. Relevansi bagi Pendidikan Islam Kontemporer

Keteladanan ‘Aisyah sangat relevan dengan dunia pendidikan sekarang.

Model belajar beliau dapat diterjemahkan menjadi:

Teladan ‘AisyahPendidikan modern
Mendengar dengan perhatianActive listening
BertanyaQuestion-based learning
KlarifikasiVerification
Membandingkan dalilCritical thinking
MengulangReview
MemahamiDeep learning
MengamalkanApplication
MengajarkanKnowledge sharing

Maka pembelajaran Islam seharusnya tidak hanya menghasilkan mahasiswa yang:

pandai menjawab soal,

tetapi mahasiswa yang:

mampu memahami, mempertanyakan, menganalisis, mengamalkan, dan menjelaskan kembali ilmu dengan benar.


M. Model Pembelajaran ‘Aisyah رضي الله عنها

Dari hadits ini dapat dirumuskan sebuah model:

MODEL “AISYAH”

A — Amati dan dengarkan
Menerima ilmu dengan perhatian.

I — Identifikasi yang belum dipahami
Jujur terhadap keterbatasan pengetahuan.

S — Susun pertanyaan
Ajukan pertanyaan yang relevan.

Y — Yakin melalui klarifikasi
Jangan mengambil kesimpulan sebelum jelas.

A — Amalkan ilmu
Ilmu diwujudkan dalam tindakan.

H — Hantarkan ilmu kepada orang lain
Jadilah penyampai ilmu yang bermanfaat.

Ini tentu merupakan formulasi pedagogis kontemporer, bukan istilah yang berasal dari teks hadits.


N. Pesan untuk Mahasiswa dan Santri

Hadits ini memberikan pesan yang sangat kuat:

Jangan malu bertanya.

Jika belum memahami:

bertanyalah.

Jika masih belum jelas:

ulangilah pertanyaan dengan sopan.

Jika menemukan dalil yang tampak berbeda:

jangan tergesa-gesa menyimpulkan.

Jika sudah memahami:

amalkan.

Jika sudah menguasai:

ajarkan kepada orang lain.

Karena itulah semangat belajar yang ditunjukkan oleh Sayyidah ‘Aisyah رضي الله عنها.


O. Kesimpulan

Hadits No. 15 Mukhtaṣar Ibn Abī Jamrah mengandung pelajaran yang jauh lebih luas daripada sekadar pembahasan mengenai hisab.

Pada bagian awal, hadits memberikan potret luar biasa tentang kepribadian ilmiah Sayyidah ‘Aisyah رضي الله عنها.

Beliau:

  1. mendengar dengan perhatian;
  2. tidak malu mengakui sesuatu yang belum dipahami;
  3. berani bertanya;
  4. mengulang pertanyaan sampai memahami;
  5. menghubungkan satu dalil dengan dalil lainnya;
  6. bersikap kritis tetapi tetap santun;
  7. menghafal dan meriwayatkan ilmu;
  8. mengamalkan ilmu;
  9. mengajarkan ilmu kepada generasi berikutnya.

Dengan demikian, metode belajar ‘Aisyah dapat dirumuskan:

سَمَاعٌ → سُؤَالٌ → مُرَاجَعَةٌ → فَهْمٌ → حِفْظٌ → عَمَلٌ → تَعْلِيمٌ

Mendengar → bertanya → mengklarifikasi → memahami → mengingat → mengamalkan → mengajarkan.

Sedangkan bagian kedua hadits mengingatkan bahwa pada akhirnya ilmu dan amal manusia akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah سبحانه وتعالى.

Maka pesan keseluruhan hadits ini dapat dirumuskan:

“Belajarlah dengan sungguh-sungguh, bertanyalah ketika belum memahami, carilah kejelasan dengan adab, amalkan ilmu yang telah dipahami, dan ajarkan kepada orang lain; sebab ilmu dan amal pada akhirnya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.”


Referensi Utama

  1. Al-Bukhārī, Muḥammad ibn Ismā‘īl. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-‘Ilm, hadis no. 103. Hadits ini ditempatkan dalam bab “Man sami‘a syai’an farāja‘a ḥattā ya‘rifahu.” (Konsultasi Agama Islam Online)
  2. Muslim ibn al-Ḥajjāj. Ṣaḥīḥ Muslim, hadis no. 2876, dalam pembahasan sifat hari kiamat dan penduduk surga/neraka.
  3. Ibn Abī Jamrah, ‘Abdullah ibn Sa‘d al-Azdī. Jam‘ an-Nihāyah fī Bad’i al-Khair wa al-Ghāyah / Mukhtaṣar Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Hadits No. 15. (Scribd)
  4. Al-Syanwānī, Muḥammad ibn ‘Alī. Ḥāsyiyah ‘alā Mukhtaṣar Ibn Abī Jamrah li al-Bukhārī. Hasyiyah ini secara khusus memberikan penjelasan terhadap matan dan aspek sanad hadits dalam Mukhtaṣar Ibn Abī Jamrah. (Dar Al Kutub Al Islamiyah)
  5. Ibn Ḥajar al-‘Asqalānī. Fatḥ al-Bārī bi Syarḥ Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Terutama syarah terhadap Kitāb al-‘Ilm dan hadits no. 103.
  6. Al-Nawawī. Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim. Pembahasan mengenai hadits “man ḥūsiba ‘udzdziba” dan perbedaan antara al-‘arḍ dan al-munāqasyah.
  7. Al-Dzahabī. Siyar A‘lām al-Nubalā’. Biografi Sayyidah ‘Aisyah رضي الله عنها dan kedudukannya sebagai salah satu ulama besar sahabat.
  8. Al-Zarkasyī. al-Ijābah li Īrād mā Istadrakathu ‘Āisyah ‘ala aṣ-Ṣaḥābah. Sangat relevan untuk melihat kemampuan ‘Aisyah dalam melakukan klarifikasi, koreksi, dan pemahaman terhadap riwayat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *