Bahan Kajian Keislaman: Menapaki Jalan Mahabbah Ilāhiyyah melalui Al-Qur’an, Sunnah, dan Bimbingan Ulama Salaf
Muqaddimah
Segala puji bagi Allah Swt. yang telah melimpahkan nikmat iman, Islam, dan kesempatan untuk senantiasa memperbaiki diri. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, para sahabat, serta seluruh umatnya yang mengikuti petunjuk beliau hingga akhir zaman.
Di antara cita-cita tertinggi seorang mukmin bukanlah sekadar mendapatkan kekayaan, kedudukan, popularitas, atau pujian manusia, melainkan memperoleh cinta dan keridaan Allah Swt. Sebab, apabila Allah mencintai seorang hamba, ia memperoleh kemuliaan yang jauh melampaui kesenangan duniawi.
Namun, muncul pertanyaan penting: bagaimana cara agar Allah mencintai kita? Apakah cukup dengan memperbanyak ibadah ritual, ataukah harus disertai dengan penyucian hati, akhlak mulia, dan pengabdian kepada sesama manusia?
Al-Qur’an, hadis Nabi ﷺ, serta penjelasan para ulama Ahlussunnah wal Jamaah memberikan petunjuk bahwa cinta Allah tidak hanya ditempuh melalui banyaknya amal, tetapi juga melalui keikhlasan, ketakwaan, mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ, memperbaiki akhlak, bertobat, dan melepaskan ketergantungan hati terhadap dunia yang melalaikan.
Kajian ini akan menguraikan sejumlah amalan tersebut dengan merujuk kepada dalil-dalil syariat dan kitab-kitab klasik, khususnya karya Imam al-Ghazali dan Imam an-Nawawi rahimahumallāh.
1. Memahami Makna Cinta Allah kepada Hamba-Nya
Dalam bahasa Arab, cinta disebut mahabbah (الْمَحَبَّةُ). Cinta Allah kepada hamba-Nya bukanlah cinta yang menyerupai perasaan makhluk. Cinta Allah merupakan sifat yang sesuai dengan keagungan dan kesempurnaan-Nya, serta tampak dalam keridaan, rahmat, pemuliaan, dan pemberian pahala kepada hamba yang dicintai-Nya.
Allah Swt. berfirman dalam QS. Ali ‘Imran ayat 31:
QS. Āli ‘Imrān : 31
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya:
“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Ayat ini mengajarkan bahwa cinta kepada Allah tidak cukup hanya diucapkan dengan lisan atau dirasakan dalam hati. Cinta tersebut perlu dibuktikan dengan mengikuti Rasulullah ﷺ dalam akidah, ibadah, akhlak, dan perilaku.
Imam an-Nawawi dalam Riyāḍuṣ-Ṣāliḥīn, pada pembahasan keutamaan mengikuti sunnah, menempatkan ketaatan kepada Rasulullah ﷺ sebagai bagian penting dari perjalanan seorang mukmin menuju keridaan Allah. Sementara itu, Imam al-Ghazali dalam Iḥyā’ ‘Ulūmiddīn menjelaskan pembinaan hati dan akhlak sebagai bagian penting dari perjalanan mendekatkan diri kepada Allah.
Dengan demikian, tanda cinta kepada Allah bukan sekadar merasa dekat dengan-Nya, melainkan berusaha hidup sesuai dengan petunjuk-Nya.
2. Menjaga Ketakwaan dan Menunaikan Amalan Wajib
Amalan pertama yang harus diperhatikan oleh orang yang ingin dicintai Allah adalah menjaga ketakwaan, terutama dengan melaksanakan kewajiban dan menjauhi larangan-Nya.
Allah Swt. berfirman:
QS. Āli ‘Imrān : 76
بَلَىٰ مَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ وَاتَّقَىٰ فَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ
Artinya:
“Sebenarnya, siapa yang menepati janji dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.”
Penjelasan paling tegas mengenai amalan yang mendatangkan cinta Allah terdapat dalam hadis qudsi berikut.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ، فِيمَا يَرْوِيهِ عَنْ رَبِّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى:
«وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ».
Artinya:
Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah ﷺ meriwayatkan dari Allah Swt.: “Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunah hingga Aku mencintainya.”
HR. al-Bukhari, no. 6502.
Hadis ini merupakan landasan penting dalam memahami urutan ibadah. Sebelum mengejar amalan sunah yang banyak, seorang muslim perlu memastikan bahwa kewajibannya telah ditunaikan dengan benar.
Contohnya adalah menjaga shalat lima waktu, berpuasa Ramadan, menunaikan zakat apabila telah memenuhi syarat, memenuhi hak keluarga, serta menjauhi kezaliman dan perkara yang diharamkan.
Pelajaran penting: Jangan sampai seseorang sibuk memperbanyak ibadah sunah, tetapi meremehkan shalat wajib, mengabaikan nafkah keluarga, atau mengambil hak orang lain.
3. Memperbanyak Amalan Sunah dengan Istikamah
Setelah menjaga amalan wajib, seorang mukmin dianjurkan memperbanyak amalan sunah. Amalan sunah menjadi sarana untuk memperkuat kedekatan dengan Allah dan menyempurnakan kekurangan dalam ibadah wajib.
Di antara amalan yang dapat dibiasakan ialah shalat rawatib, shalat tahajud, shalat duha, puasa sunah, membaca Al-Qur’an, berzikir, bershalawat, bersedekah, dan membantu orang yang membutuhkan.
Allah Swt. berfirman:
QS. Al-‘Ankabūt : 69
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
Artinya:
“Orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik.”
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ:
«أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ».
Artinya:
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus, meskipun sedikit.”
HR. al-Bukhari, no. 6464, dan Muslim, no. 783.
Hadis tersebut memberikan pelajaran bahwa kualitas ibadah tidak hanya diukur dari banyaknya amalan dalam satu waktu, tetapi juga dari keberlangsungannya.
Seseorang yang membaca Al-Qur’an satu halaman setiap hari dengan istikamah dapat membangun kebiasaan ibadah yang kuat. Demikian pula orang yang membiasakan sedekah, meskipun sedikit, tetapi dilakukan secara rutin dengan ikhlas.
Dalam Riyāḍuṣ-Ṣāliḥīn, Imam an-Nawawi menghimpun hadis-hadis tentang keutamaan istikamah dan kesungguhan dalam ketaatan. Pesan yang dapat kita ambil ialah bahwa perjalanan menuju Allah memerlukan kesabaran dan konsistensi.
Amalan praktis: Pilih beberapa amalan sunah yang sesuai dengan kemampuan, lalu pertahankan. Jangan memulai dengan target yang terlalu berat hingga akhirnya seluruh kebiasaan ibadah terhenti.
4. Mencintai Allah dengan Mengikuti Rasulullah ﷺ
Salah satu bukti cinta kepada Allah ialah mencintai Rasulullah ﷺ dan berusaha mengikuti petunjuk beliau. Mengikuti Rasulullah bukan hanya meneladani gerakan ibadah, tetapi juga meneladani kejujuran, kasih sayang, kesabaran, kerendahan hati, dan amanah beliau.
Allah Swt. berfirman:
QS. Al-Aḥzāb : 21
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Artinya:
“Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.”
Rasulullah ﷺ bersabda:
«لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّىٰ أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ».
Artinya:
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.”
HR. al-Bukhari, no. 15, dan Muslim, no. 44.
Hadis ini menunjukkan kedudukan agung cinta kepada Rasulullah ﷺ. Cinta tersebut diwujudkan melalui ketaatan terhadap ajaran beliau, penghormatan kepada sunnahnya, serta usaha meneladani akhlaknya.
Dalam tradisi keilmuan Islam, Imam an-Nawawi melalui Riyāḍuṣ-Ṣāliḥīn dan Al-Adzkār memberikan perhatian besar terhadap pengamalan sunnah dalam kehidupan sehari-hari, termasuk doa, zikir, dan adab.
Oleh karena itu, jangan sampai kita mengaku mencintai Nabi ﷺ, tetapi mengabaikan kejujuran, menyakiti sesama, meremehkan amanah, atau membiasakan perilaku yang bertentangan dengan akhlak beliau.
5. Bertobat dan Menyucikan Hati dari Dosa
Tidak ada manusia biasa yang terbebas dari kekurangan dan kesalahan. Akan tetapi, kemuliaan seorang mukmin bukan terletak pada anggapan bahwa dirinya tidak pernah berdosa, melainkan pada kesediaannya mengakui kesalahan, bertobat, dan memperbaiki diri.
Allah Swt. berfirman:
QS. Al-Baqarah : 222
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
Artinya:
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.”
Rasulullah ﷺ bersabda:
«كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ».
Artinya:
“Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang banyak melakukan kesalahan adalah mereka yang banyak bertobat.”
HR. at-Tirmidzi, no. 2499.
Hadis ini dinilai ḥasan oleh sejumlah ulama hadis. Pesannya jelas: kesalahan tidak boleh menjadi alasan untuk berputus asa dari rahmat Allah. Sebaliknya, kesalahan harus menjadi pintu untuk kembali kepada-Nya.
Tobat yang sungguh-sungguh meliputi:
- Menyesali dosa yang telah dilakukan.
- Berhenti dari dosa tersebut.
- Bertekad tidak mengulanginya.
- Mengembalikan hak orang lain atau meminta penyelesaian apabila dosa berkaitan dengan hak manusia.
Dalam Iḥyā’ ‘Ulūmiddīn, Imam al-Ghazali membahas tobat sebagai bagian penting dari perjalanan spiritual seorang hamba. Tobat bukan hanya ucapan istigfar, melainkan perubahan arah hidup: dari kelalaian menuju ketaatan, dari kesombongan menuju kerendahan hati, dan dari kebiasaan bermaksiat menuju kesungguhan memperbaiki diri.
Orang yang ingin dicintai Allah hendaknya tidak membiarkan dosa menjadi kebiasaan. Ketika terjatuh, segeralah kembali kepada Allah, tanpa kehilangan harapan terhadap ampunan-Nya.
6. Memiliki Akhlak Mulia dan Berbuat Baik kepada Sesama
Ibadah yang benar seharusnya membentuk akhlak yang baik. Kedekatan kepada Allah tidak sepatutnya menjadikan seseorang sombong, kasar, mudah menghina, atau merendahkan orang lain.
Allah Swt. berfirman:
QS. Āli ‘Imrān : 134
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Artinya:
“(Yaitu) orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا».
Artinya:
“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari Kiamat adalah orang-orang yang paling baik akhlaknya.”
HR. at-Tirmidzi, no. 2018; dinilai ḥasan dalam sejumlah penilaian ulama hadis.
Hadis tersebut berbicara tentang kecintaan Rasulullah ﷺ kepada orang yang berakhlak mulia. Adapun dalil bahwa Allah mencintai orang yang berbuat baik ditegaskan dalam QS. Āli ‘Imrān ayat 134 di atas.
Imam al-Ghazali dalam Iḥyā’ ‘Ulūmiddīn, khususnya pembahasan tentang latihan jiwa dan pembinaan akhlak, menjelaskan pentingnya melawan sifat-sifat tercela seperti kesombongan, riya, hasad, dan amarah yang tidak terkendali.
Akhlak mulia dapat diwujudkan melalui hal-hal sederhana:
- Berkata jujur, meskipun kejujuran itu terasa berat.
- Menahan amarah ketika menghadapi perbedaan pendapat.
- Memaafkan kesalahan orang lain tanpa mengabaikan keadilan.
- Menghormati orang tua, guru, tetangga, dan orang yang berbeda pandangan.
- Membantu orang yang kesulitan tanpa mengharapkan pujian.
- Menjaga lisan dan tulisan, termasuk ketika berkomunikasi melalui media sosial.
Jangan sampai seseorang rajin berzikir, tetapi lisannya menyakiti orang lain. Jangan sampai seseorang sering berbicara tentang agama, tetapi mengabaikan amanah dan hak sesamanya.
Akhlak yang mulia merupakan buah penting dari ibadah dan pendidikan hati.
7. Bersikap Zuhud: Tidak Diperbudak oleh Dunia
Zuhud sering disalahpahami sebagai kewajiban meninggalkan pekerjaan, menolak kekayaan, atau menjauhi seluruh urusan dunia. Padahal, zuhud lebih tepat dipahami sebagai sikap hati yang tidak menjadikan dunia sebagai tujuan tertinggi dan tidak membiarkan kecintaan kepadanya mengalahkan ketaatan kepada Allah.
Allah Swt. berfirman:
QS. Al-Qaṣaṣ : 77
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
Artinya:
“Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia.”
Ayat ini mengajarkan keseimbangan: akhirat menjadi orientasi utama, sedangkan dunia dikelola sebagai sarana untuk menjalankan amanah dan berbuat kebajikan.
Terdapat pula hadis yang sangat relevan dengan tema ini.
عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِي اللَّهُ وَأَحَبَّنِي النَّاسُ. فَقَالَ:
«ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ، وَازْهَدْ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ».
Artinya:
Dari Sahl bin Sa‘d as-Sa‘idi r.a., seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ dan berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang jika aku melakukannya, Allah akan mencintaiku dan manusia pun akan mencintaiku.” Beliau bersabda, “Bersikap zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah mencintaimu; dan bersikap zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya manusia mencintaimu.”
HR. Ibnu Majah, no. 4102.
Hadis ini dinilai ḥasan oleh sejumlah ulama, di antaranya Imam an-Nawawi dalam Al-Arba‘īn an-Nawawiyyah, hadis ke-31.
Apa makna zuhud dalam kehidupan sehari-hari?
Zuhud bukan berarti seorang pedagang harus berhenti berdagang, seorang dosen harus berhenti mengajar, atau seorang pemimpin harus meninggalkan tanggung jawabnya. Zuhud berarti tetap bekerja secara profesional, tetapi tidak menghalalkan segala cara demi keuntungan. Tetap berusaha memperoleh penghasilan, tetapi tidak sombong ketika berhasil dan tidak kehilangan iman ketika gagal.
Imam al-Ghazali membahas zuhud dalam Iḥyā’ ‘Ulūmiddīn, pada pembahasan tentang zuhud dan kemiskinan. Inti pendidikan zuhud adalah membebaskan hati dari ketergantungan berlebihan kepada dunia agar manusia mampu mengutamakan Allah dan akhirat.
Sementara itu, penjelasan Imam an-Nawawi atas hadis ke-31 dalam Al-Arba‘īn an-Nawawiyyah menempatkan zuhud sebagai salah satu prinsip penting dalam membangun hubungan seorang hamba dengan Allah dan hubungan sosialnya dengan manusia.
Renungan: Dunia boleh berada di tangan kita, tetapi jangan sampai menguasai hati kita. Harta yang halal dapat menjadi sarana ibadah apabila digunakan untuk menafkahi keluarga, membantu fakir miskin, mendukung pendidikan, dan menegakkan kemaslahatan.
8. Memperbanyak Zikir dan Menghadirkan Hati Bersama Allah
Di antara amalan yang mendekatkan seorang hamba kepada Allah adalah memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, beristigfar, dan merenungkan kebesaran-Nya.
Allah Swt. berfirman:
QS. Al-Baqarah : 152
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
Artinya:
“Maka, ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.”
Allah Swt. juga berfirman:
QS. Ar-Ra‘d : 28
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artinya:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
Zikir tidak semestinya berhenti pada gerakan lisan. Zikir juga harus membimbing hati untuk mengingat pengawasan Allah dan mengarahkan perilaku kepada kebaikan.
Imam an-Nawawi menyusun kitab Al-Adzkār sebagai panduan doa dan zikir yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadis. Kitab ini mengajarkan bahwa zikir dapat diamalkan dalam berbagai keadaan: setelah shalat, ketika pagi dan petang, sebelum tidur, ketika bepergian, dan dalam aktivitas keseharian.
Adapun Imam al-Ghazali dalam Iḥyā’ ‘Ulūmiddīn, pada pembahasan tentang zikir dan doa, memberikan perhatian pada pentingnya menghadirkan hati dalam ibadah.
Karena itu, ketika membaca tasbih, tahmid, tahlil, atau istigfar, berusahalah memahami maknanya. Ketika mengucapkan أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ (Astaghfirullāh), hadirkan kesadaran bahwa kita membutuhkan ampunan Allah. Ketika mengucapkan الْحَمْدُ لِلَّهِ (Alhamdulillāh), hadirkan rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan-Nya.
9. Menumbuhkan Sifat Ihsan dalam Setiap Pekerjaan
Amalan agar dicintai Allah bukan hanya ibadah yang dilakukan di masjid atau majelis pengajian. Pekerjaan sehari-hari juga dapat menjadi jalan mendekatkan diri kepada Allah apabila dilakukan dengan niat yang baik, cara yang halal, dan tanggung jawab.
Allah Swt. berfirman:
QS. Al-Baqarah : 195
وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Artinya:
“Berbuat baiklah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.”
Rasulullah ﷺ menjelaskan makna ihsan dalam hadis Jibril:
«أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ».
Artinya:
“Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.”
HR. Muslim, no. 8, dalam hadis Jibril tentang Islam, iman, dan ihsan.
Ihsan mengajarkan bahwa seorang mukmin berusaha melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya karena menyadari pengawasan Allah.
Contohnya:
- Seorang pedagang berlaku jujur dalam menimbang dan menentukan harga.
- Seorang guru mengajar dengan sungguh-sungguh dan tidak mengabaikan tanggung jawabnya.
- Seorang mahasiswa mengerjakan tugas tanpa menyontek atau melakukan plagiarisme.
- Seorang pemimpin mengambil keputusan dengan adil dan tidak menyalahgunakan jabatan.
- Seorang anak merawat orang tuanya dengan hormat dan penuh kasih sayang.
Dalam perspektif tasawuf akhlaki Imam al-Ghazali, pembinaan batin harus tercermin dalam tindakan nyata. Kesalehan tidak cukup diukur dari penampilan lahiriah, tetapi juga dari kejujuran, amanah, keadilan, dan manfaat yang diberikan kepada sesama.
Dengan demikian, pekerjaan yang halal, dilakukan secara profesional, dan diniatkan untuk mencari keridaan Allah dapat menjadi bagian dari pengabdian kepada-Nya.
10. Menumbuhkan Cinta kepada Allah melalui Rasa Syukur dan Tawakal
Orang yang ingin dicintai Allah hendaknya membiasakan diri bersyukur ketika mendapatkan nikmat dan bertawakal ketika menghadapi kesulitan.
Allah Swt. berfirman:
QS. Āli ‘Imrān : 159
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Artinya:
“Apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”
Allah Swt. juga berfirman:
QS. Ibrāhīm : 7
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
Artinya:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”
Syukur tidak hanya berarti mengucapkan الْحَمْدُ لِلَّهِ, tetapi juga menggunakan nikmat sesuai dengan kehendak Allah. Ilmu disyukuri dengan mengajarkannya, harta disyukuri dengan menafkahkannya secara halal, jabatan disyukuri dengan berlaku adil, dan kesehatan disyukuri dengan memperbanyak ketaatan.
Tawakal juga bukan berarti menyerah tanpa usaha. Seorang mukmin tetap bekerja, merencanakan, belajar, dan berikhtiar, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Imam al-Ghazali dalam Iḥyā’ ‘Ulūmiddīn, pada pembahasan tentang syukur dan tawakal, menguraikan pentingnya mengenali nikmat Allah serta menggantungkan hati kepada-Nya.
Orang yang bersyukur tidak mudah dikuasai kesombongan ketika berhasil. Orang yang bertawakal tidak kehilangan harapan ketika menghadapi kegagalan. Ia memahami bahwa tugas manusia adalah berusaha dalam ketaatan, sedangkan hasil akhirnya berada dalam ketentuan Allah.
11. Mengamalkan Nasihat Imam an-Nawawi tentang Zuhud
Di antara dalil yang sangat tepat dijadikan pegangan dalam kajian ini adalah hadis ke-31 dalam Al-Arba‘īn an-Nawawiyyah karya Imam Yahya bin Syaraf an-Nawawi rahimahullāh.
مِنْ وَصَايَا النَّبِيِّ ﷺ:
«ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ، وَازْهَدْ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ».
Artinya:
“Bersikap zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah mencintaimu; dan bersikap zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya manusia mencintaimu.”
HR. Ibnu Majah, no. 4102.
Hadis ini memberikan dua pelajaran mendasar.
Pertama, cinta Allah berkaitan erat dengan kemampuan seorang hamba menempatkan dunia secara proporsional. Ketika dunia menjadi tujuan utama, manusia dapat terdorong untuk berdusta, berbuat zalim, dan mengabaikan kewajiban demi keuntungan. Sebaliknya, ketika akhirat menjadi orientasi utama, dunia akan dikelola sebagai sarana untuk beribadah dan berbuat baik.
Kedua, seseorang yang tidak rakus terhadap milik orang lain cenderung lebih mudah menjaga hubungan sosial. Ia tidak iri berlebihan terhadap keberhasilan orang lain, tidak memaksakan kehendak demi memperoleh keuntungan, dan tidak menjadikan pujian manusia sebagai ukuran utama kehidupannya.
Imam an-Nawawi menjelaskan hadis ini dalam kerangka pendidikan zuhud dan pengendalian kecenderungan hati terhadap dunia. Sementara itu, Imam al-Ghazali mengembangkan pembahasan zuhud dalam Iḥyā’ ‘Ulūmiddīn sebagai bagian dari pembinaan jiwa agar manusia tidak diperbudak oleh keinginan yang melalaikan.
Maka, zuhud bukan berarti meninggalkan kehidupan, tetapi menjalani kehidupan dengan hati yang merdeka dari kerakusan.
12. Rangkuman Amalan Agar Dicintai Allah
1. Menjaga ketakwaan
Melaksanakan kewajiban dan menjauhi larangan Allah. (QS. Āli ‘Imrān: 76)
2. Istikamah dalam ibadah
Menjaga amalan wajib dan membiasakan amalan sunah. (HR. al-Bukhari: 6502)
3. Mengikuti Rasulullah ﷺ
Meneladani sunnah dan akhlak beliau. (QS. Āli ‘Imrān: 31)
4. Bertobat dan menyucikan hati
Meninggalkan dosa dan memperbaiki diri. (QS. Al-Baqarah: 222)
5. Memperindah akhlak
Menahan amarah, memaafkan, dan berbuat baik. (QS. Āli ‘Imrān: 134)
6. Bersikap zuhud
Tidak menjadikan dunia sebagai tujuan tertinggi. (HR. Ibnu Majah: 4102)
7. Memperbanyak zikir
Mengingat Allah dengan lisan dan hati. (QS. Al-Baqarah: 152)
8. Berbuat ihsan
Melaksanakan amanah dengan baik dan bertanggung jawab. (QS. Al-Baqarah: 195)
9. Bersyukur dan bertawakal
Berikhtiar, bersyukur, dan menyerahkan hasil kepada Allah. (QS. Āli ‘Imrān: 159)
13. Referensi Kitab Kuning dan Sumber Kajian
Berikut rujukan utama yang dapat digunakan untuk memperdalam materi ini.
Tambahkan ke Favorit
1. Imam Abū Ḥāmid al-Ghazali (w. 505 H)
إِحْيَاءُ عُلُومِ الدِّينِ — Iḥyā’ ‘Ulūmiddīn
Rujukan utama untuk pembahasan tobat, zuhud, syukur, tawakal, zikir, cinta kepada Allah, serta penyucian hati dan pembinaan akhlak. Perhatikan khususnya Kitāb al-Maḥabbah wa asy-Syawq wa al-Uns wa ar-Riḍā.
Tambahkan ke Favorit
2. Imam Yaḥyā bin Syaraf an-Nawawi (w. 676 H)
رِيَاضُ الصَّالِحِينَ — Riyāḍuṣ-Ṣāliḥīn
Kumpulan hadis tentang ikhlas, tobat, sabar, takwa, istikamah, akhlak, zikir, dan amal saleh.
Tambahkan ke Favorit
3. Imam an-Nawawi
الْأَرْبَعُونَ النَّوَوِيَّةُ — Al-Arba‘īn an-Nawawiyyah
Hadis ke-31 tentang zuhud dan cinta Allah serta manusia, yang bersumber dari riwayat Ibnu Majah.
Tambahkan ke Favorit
4. Imam an-Nawawi
الْأَذْكَارُ — Al-Adzkār
Panduan zikir dan doa berdasarkan Al-Qur’an dan hadis untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Tambahkan ke Favorit
5. Imam al-Bukhari dan Imam Muslim
Ṣaḥīḥ al-Bukhārī dan Ṣaḥīḥ Muslim
Sumber hadis tentang amalan wajib dan sunah, cinta kepada Rasulullah ﷺ, istikamah, serta hadis Jibril tentang ihsan.
Catatan ilmiah: Nomor hadis dapat berbeda menurut edisi dan sistem penomoran kitab. Untuk kajian formal, sebaiknya periksa teks Arab dan syarah dari edisi yang digunakan. Kutipan di atas merupakan petikan dalil, bukan kutipan langsung panjang dari penjelasan kitab-kitab tersebut.
Penutup: Jadikan Cinta Allah sebagai Tujuan Hidup
Saudaraku, cinta Allah merupakan anugerah yang sangat agung. Ia tidak diperoleh hanya dengan pengakuan lisan, tetapi diusahakan melalui iman, ketakwaan, ibadah yang ikhlas, tobat, akhlak mulia, dan kesungguhan mengikuti Rasulullah ﷺ.
Jangan mengukur kedekatan kepada Allah hanya dari banyaknya ibadah yang terlihat oleh manusia. Perhatikan pula bagaimana kita memperlakukan keluarga, menjaga amanah, mencari nafkah, berbicara kepada orang lain, dan menyikapi perbedaan.
Boleh jadi seseorang memiliki sedikit amalan sunah, tetapi ia menjaganya dengan istikamah. Boleh jadi seseorang tidak dikenal manusia, tetapi ia bersungguh-sungguh menjaga keikhlasan dan menjauhi kezaliman. Kita tidak dapat memastikan kedudukan seseorang di sisi Allah, tetapi kita diperintahkan untuk terus memperbaiki amal dan berharap kepada rahmat-Nya.
Marilah kita mengamalkan nasihat Rasulullah ﷺ tentang zuhud: tidak menjadikan dunia sebagai tujuan tertinggi, tidak rakus terhadap milik orang lain, serta menjadikan kehidupan sebagai kesempatan untuk mengabdi kepada Allah.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang dicintai-Nya, diampuni dosa-dosanya, diperindah akhlaknya, dan diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah.
Doa agar dianugerahi cinta Allah
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَالْعَمَلَ الَّذِي يُبَلِّغُنِي حُبَّكَ.
Artinya:
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu cinta-Mu, cinta orang yang mencintai-Mu, dan amalan yang mengantarkanku untuk memperoleh cinta-Mu.”
Doa ini diriwayatkan dalam Jāmi‘ at-Tirmidzi, no. 3235, dengan redaksi yang lebih panjang dalam riwayatnya.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.