KHUTBAH PERTAMA
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْإِيمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَهَدَانَا إِلَى صِرَاطِهِ الْمُسْتَقِيمِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang tidak hanya mengucapkan iman dengan lisan, tetapi juga menghayatinya di dalam hati dan membuktikannya melalui perilaku sehari-hari.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Setiap manusia mendambakan kebahagiaan. Ada yang mencarinya melalui kekayaan, jabatan, popularitas, pendidikan, dan keberhasilan karier. Semua itu boleh kita usahakan. Namun, pernahkah kita bertanya, mengapa ada orang yang memiliki banyak harta tetapi hatinya gelisah? Mengapa ada orang yang berkedudukan tinggi tetapi hidupnya terasa kosong? Sebaliknya, mengapa ada orang yang hidup sederhana tetapi hatinya tenang dan wajahnya memancarkan rasa syukur?
Salah satu jawabannya adalah manisnya iman.
Iman bukan sekadar pengetahuan tentang Allah. Iman bukan pula hanya pengakuan dengan lisan. Iman adalah keyakinan yang menghidupkan hati, mengarahkan pikiran, dan membimbing perbuatan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ:
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ.
Artinya: “Ada tiga perkara yang apabila terdapat pada diri seseorang, ia akan merasakan manisnya iman: Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya; ia mencintai seseorang semata-mata karena Allah; dan ia membenci kembali kepada kekufuran sebagaimana ia tidak ingin dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Hadis ini mengajarkan bahwa iman memiliki ḥalāwah, yakni rasa manis yang dapat dirasakan oleh hati. Sebagaimana manisnya madu tidak cukup dijelaskan dengan kata-kata, manisnya iman juga tidak cukup hanya dibicarakan. Ia harus dihayati dan dialami melalui kedekatan dengan Allah Swt.
Lalu, bagaimana agar kita dapat merasakan manisnya iman?
Pertama, mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi segala-galanya.
Allah Swt. berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 24:
قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ.
Artinya: “Katakanlah, jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, pasangan-pasanganmu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya. Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.”
Ayat ini bukan perintah untuk meninggalkan keluarga, pekerjaan, atau harta. Islam justru mengajarkan tanggung jawab terhadap semuanya. Akan tetapi, seluruh kecintaan itu harus berada dalam bimbingan cinta kepada Allah.
Ketika waktu salat tiba, apakah kita lebih mendahulukan panggilan Allah atau kesibukan dunia? Ketika kejujuran mengancam keuntungan, apakah kita tetap jujur? Ketika hawa nafsu mengajak kepada kemaksiatan, apakah kita mampu menahan diri?
Di situlah cinta kepada Allah diuji.
Cinta bukan hanya apa yang kita ucapkan, tetapi juga apa yang kita pilih ketika harus menentukan antara ketaatan dan keinginan pribadi.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Kedua, mencintai sesama manusia karena Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّىٰ يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ.
Artinya: “Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Inilah ajaran iman yang melahirkan kepedulian sosial.
Orang yang ingin dirinya dihormati akan belajar menghormati orang lain. Orang yang tidak ingin ditipu akan menjauhi penipuan. Orang yang menginginkan kemudahan akan berusaha memudahkan urusan saudaranya.
Dalam kehidupan keluarga, iman melahirkan kasih sayang. Di tempat kerja, iman melahirkan integritas. Dalam kehidupan bermasyarakat, iman melahirkan keadilan dan persaudaraan.
Secara rasional, keyakinan kepada Allah menumbuhkan kesadaran bahwa setiap perbuatan memiliki konsekuensi moral. Seorang mukmin tidak hanya bertanya, “Apakah perbuatan ini menguntungkan saya?” tetapi juga, “Apakah perbuatan ini diridai Allah dan membawa kebaikan bagi sesama?”
Oleh karena itu, jangan sampai kita rajin beribadah tetapi mudah menyakiti orang lain. Jangan sampai lisan kita fasih membaca Al-Qur’an tetapi tangan kita menyebarkan fitnah. Jangan sampai kita berbicara tentang surga tetapi membuat orang lain menderita karena perilaku kita.
Iman yang benar semestinya menjadikan kita semakin rendah hati, jujur, penyayang, dan bermanfaat bagi sesama.
Ketiga, membenci kemaksiatan dan menjaga keteguhan iman.
Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 7:
وَلَٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ.
Artinya: “Akan tetapi, Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu, serta menjadikan kamu benci kepada kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang benar.”
Ayat ini menunjukkan bahwa iman yang hidup tidak hanya membuat seseorang mencintai kebaikan, tetapi juga membentuk ketidaksukaannya terhadap keburukan.
Orang beriman bukan berarti tidak pernah tergoda melakukan dosa. Namun, ketika terjatuh dalam kesalahan, ia tidak merasa nyaman berlama-lama di dalamnya. Ia segera bertobat, memohon ampun, dan berusaha memperbaiki diri.
Di zaman modern, ujian iman hadir dalam berbagai bentuk: informasi yang menyesatkan, fitnah di media sosial, budaya pamer, korupsi, kebohongan, dan kemudahan melakukan maksiat secara tersembunyi.
Karena itu, menjaga iman membutuhkan ilmu, kesungguhan melawan hawa nafsu, lingkungan yang baik, dan pertolongan Allah.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Bagaimana kita melatih diri agar dapat merasakan manisnya iman?
Pertama, jagalah salat lima waktu dan usahakan melaksanakannya dengan khusyuk.
Kedua, bacalah Al-Qur’an setiap hari, meskipun sedikit, dengan berusaha memahami maknanya.
Ketiga, perbanyak zikir, istigfar, dan doa agar hati tidak dikuasai kelalaian.
Keempat, pilihlah lingkungan pergaulan yang mendekatkan kita kepada kebaikan.
Kelima, biasakan melakukan kebaikan tanpa menunggu pujian manusia.
Allah Swt. berfirman dalam Surah Ar-Ra‘d ayat 28:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ.
Artinya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Imam Al-Ghazal Rahimahullah, dalam kitab Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, khususnya pembahasan tentang keajaiban hati (‘Ajā’ib al-Qalb), mengajak kita memahami pentingnya menjaga dan membersihkan hati dari penyakit-penyakit batin.
Hati yang dikuasai kesombongan, iri hati, cinta dunia secara berlebihan, dan kelalaian akan sulit merasakan kelezatan ibadah. Sebaliknya, hati yang dibina dengan ilmu, zikir, keikhlasan, dan kesungguhan dalam menaati Allah akan semakin siap menerima petunjuk-Nya.
Pemikiran Imam Al-Ghazali mengingatkan kita bahwa memperbaiki kehidupan beragama tidak cukup hanya dengan memperbanyak aktivitas lahiriah. Kita juga harus memperhatikan keadaan batin: apakah ibadah kita melahirkan keikhlasan? Apakah ilmu kita menambah kerendahan hati? Apakah kedekatan kita kepada Allah membuat kita semakin baik terhadap sesama?
Secara ilmiah, kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang dapat membantu membentuk pola perilaku. Ketika salat, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan menjaga lisan dibiasakan secara konsisten, nilai-nilai kebaikan semakin terintegrasi dalam kehidupan seseorang.
Namun, manisnya iman bukan sekadar hasil teknik pembiasaan atau proses psikologis. Ia juga merupakan karunia Allah yang dicari melalui keikhlasan, ketaatan, dan doa.
Maka, jangan menunggu kaya untuk bersyukur. Jangan menunggu tua untuk bertobat. Jangan menunggu tertimpa musibah untuk mengingat Allah.
Mulailah hari ini, dari salat yang kita jaga, lisan yang kita kendalikan, rezeki yang kita peroleh secara halal, dan hati yang kita bersihkan dari kebencian.
Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang mencintai-Nya, mencintai Rasul-Nya, mencintai sesama karena-Nya, serta merasakan manisnya iman dalam setiap keadaan.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
(Khatib duduk sejenak di antara dua khutbah.)
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيدَهُ. يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَلِعَظِيمِ سُلْطَانِكَ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيمَانًا كَامِلًا، وَيَقِينًا صَادِقًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، وَعَمَلًا صَالِحًا مُتَقَبَّلًا، وَرِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا، وَتَوْبَةً نَصُوحًا قَبْلَ الْمَوْتِ، وَرَاحَةً عِنْدَ الْمَوْتِ، وَمَغْفِرَةً وَرَحْمَةً بَعْدَ الْمَوْتِ.
اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْإِيمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوبِنَا، وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِينَ.
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ، وَحَلَاوَةَ ذِكْرِكَ، وَحَلَاوَةَ مُنَاجَاتِكَ، وَاجْعَلْ مَحَبَّتَكَ أَحَبَّ إِلَيْنَا مِنْ أَنْفُسِنَا وَأَهْلِينَا وَأَمْوَالِنَا.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَطَهِّرْ نُفُوسَنَا، وَاغْفِرْ ذُنُوبَنَا، وَاسْتُرْ عُيُوبَنَا، وَثَبِّتْنَا عَلَى دِينِكَ حَتَّى نَلْقَاكَ وَأَنْتَ رَاضٍ عَنَّا.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْحَقِّ وَالْهُدَى، وَاحْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُونِيسِيَا مِنَ الْفِتَنِ وَالْمِحَنِ، وَاجْعَلْهَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.