Posted in

Menjadi Hamba Terbaik di Hadapan Allah, Rendah Hati di Hadapan Manusia

Uraian Maqalah ke-21 dalam Kitab Syarah Nashaihul ‘Ibad karya Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani

1. Teks Maqalah dan Terjemahannya

Maqalah ini dinisbatkan kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Isinya mengajarkan tentang kerendahan hati, introspeksi diri, penghormatan kepada sesama, dan kesadaran bahwa kemuliaan seseorang di sisi Allah tidak selalu sama dengan penilaian manusia.

Teks inti maqalah:

كُنْ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرَ النَّاسِ، وَكُنْ عِنْدَ النَّفْسِ شَرَّ النَّاسِ، وَكُنْ عِنْدَ النَّاسِ رَجُلًا مِنَ النَّاسِ

Kun ‘indallāhi khairan-nās, wa kun ‘indan-nafsi syarran-nās, wa kun ‘indan-nāsi rajulan minan-nās.

Artinya: “Jadilah orang terbaik di sisi Allah, pandanglah dirimu sebagai orang yang paling buruk, dan jadilah di hadapan manusia sebagai salah seorang dari mereka.”

Ketiga pesan tersebut membentuk satu kesatuan pendidikan rohani. Seorang Muslim hendaknya berusaha memperbaiki kualitas ibadah dan akhlaknya di hadapan Allah, tidak mudah mengagumi dirinya sendiri, serta tidak merasa lebih tinggi daripada orang lain dalam pergaulan.

Perlu diperhatikan bahwa ungkapan “sebagai orang yang paling buruk” bukan berarti seseorang harus membenci dirinya, mengabaikan potensi yang dimilikinya, atau menganggap dirinya tidak berguna. Maksudnya adalah menundukkan ego, menyadari kekurangan diri, dan tidak merasa sudah mencapai derajat kesalehan yang paling tinggi.

2. Jadilah Manusia Terbaik di Sisi Allah

Ungkapan pertama berbunyi:

كُنْ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرَ النَّاسِ

“Jadilah orang terbaik di sisi Allah.”

A. Ukuran kemuliaan adalah ketakwaan

Manusia sering menilai kemuliaan berdasarkan kekayaan, jabatan, pendidikan, ketenaran, keturunan, atau pengaruh sosial. Akan tetapi, dalam pandangan Islam, ukuran kemuliaan yang paling mendasar adalah ketakwaan.

Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 13:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”

Ayat ini mengajarkan bahwa kemuliaan sejati tidak ditentukan oleh seberapa tinggi kedudukan seseorang di mata manusia, tetapi oleh kualitas ketakwaannya kepada Allah.

Seseorang yang tidak terkenal, hidup sederhana, dan tidak mempunyai jabatan tinggi bisa jadi lebih mulia di sisi Allah daripada orang yang terkenal dan dihormati banyak orang. Sebaliknya, popularitas dan kedudukan tidak otomatis menunjukkan tingginya derajat spiritual seseorang.

B. Menjadi yang terbaik melalui amal, bukan pengakuan

Menjadi yang terbaik di sisi Allah bukan berarti merasa paling saleh atau paling banyak beribadah. Maksudnya adalah berusaha sungguh-sungguh memperbaiki hubungan dengan Allah melalui iman, ibadah, keikhlasan, dan akhlak yang baik.

Allah berfirman dalam QS. Al-Mulk ayat 2:

لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.”

Ayat ini menggunakan ukuran aḥsanu ‘amalan (amal yang terbaik), bukan semata-mata akṡaru ‘amalan (amal yang terbanyak). Artinya, kualitas amal, keikhlasan, dan kesesuaiannya dengan tuntunan agama sangat penting.

Seorang guru, misalnya, tidak cukup hanya mengajar agar dipuji sebagai pendidik hebat. Ia perlu meluruskan niat, mengajar dengan penuh tanggung jawab, berlaku adil kepada murid, dan menjadikan ilmunya sebagai sarana kemaslahatan.

Demikian pula seorang dai tidak cukup mengukur keberhasilannya dari jumlah jamaah atau pengikut di media sosial. Ia perlu menjaga keikhlasan, kebenaran materi dakwah, dan akhlaknya dalam menyampaikan agama.

Inti pelajaran: Berusahalah menjadi baik di hadapan Allah, bukan sekadar terlihat baik di hadapan manusia.

3. Pandanglah Diri Sendiri dengan Penuh Introspeksi

Ungkapan kedua berbunyi:

وَكُنْ عِنْدَ النَّفْسِ شَرَّ النَّاسِ

“Pandanglah dirimu sendiri sebagai orang yang paling buruk.”

Pesan ini merupakan latihan tazkiyatun nafs, yaitu penyucian jiwa dari sifat-sifat tercela, seperti kesombongan, ujub, riya, dan merasa lebih baik daripada orang lain.

A. Mengapa kita harus berhati-hati dalam menilai diri sendiri?

Manusia sering kali mudah melihat kekurangan orang lain, tetapi sulit menyadari kekurangan dirinya sendiri. Ketika melihat kesalahan orang lain, ia segera memberikan penilaian. Namun, ketika melakukan kesalahan serupa, ia mencari alasan untuk membenarkan dirinya.

Seseorang bisa saja merasa dirinya saleh karena rajin beribadah, merasa dirinya berilmu karena mempunyai gelar akademik, atau merasa dirinya mulia karena memiliki banyak pengikut. Padahal, semua itu tidak otomatis menjamin kebersihan hatinya.

Sikap yang dikehendaki dalam maqalah ini adalah kesadaran bahwa diri sendiri masih mempunyai kekurangan yang perlu diperbaiki. Semakin seseorang mengenal kekurangan dirinya, semakin besar peluangnya untuk memperbaiki diri.

Allah Swt. mengingatkan dalam QS. An-Najm ayat 32:

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa orang yang bertakwa.”

Ayat ini bukan melarang seseorang bersyukur atas kebaikan yang telah dilakukannya, melainkan melarangnya menganggap dirinya suci dan memastikan kedudukannya di hadapan Allah.

B. Penjelasan Syekh Abdul Qadir al-Jailani

Dalam uraian yang dikutip oleh Syekh Nawawi al-Bantani, terdapat nasihat yang dinisbatkan kepada Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Nasihat tersebut mengajarkan agar setiap kali bertemu dengan seseorang, kita berusaha melihat kemungkinan bahwa orang itu mempunyai keutamaan yang belum kita miliki.

Berikut penjelasan setiap bagiannya.

1. Ketika bertemu orang yang lebih muda

Nasihatnya:

هَذَا لَمْ يَعْصِ اللَّهَ وَأَنَا قَدْ عَصَيْتُ

“Orang ini belum bermaksiat kepada Allah, sedangkan aku pernah bermaksiat kepada-Nya.”

Maksudnya, jangan meremehkan orang yang lebih muda. Bisa jadi ia memiliki perjalanan hidup yang lebih bersih dari dosa-dosa yang pernah kita lakukan. Ia juga memiliki kesempatan untuk tumbuh menjadi pribadi yang saleh. Kita tidak berhak merendahkannya hanya karena usianya lebih muda atau pengalamannya lebih sedikit.

Pelajarannya: Hormati orang yang lebih muda dan jangan menjadikan usia sebagai alasan untuk merasa lebih mulia.

2. Ketika bertemu orang yang lebih tua

Nasihatnya:

هَذَا قَدْ عَبَدَ اللَّهَ قَبْلِي

“Orang ini telah beribadah kepada Allah sebelum aku.”

Orang yang lebih tua mempunyai kesempatan lebih panjang untuk beribadah dan berbuat kebaikan. Bisa jadi ia telah melewati berbagai perjuangan hidup yang tidak kita ketahui.

Tentu saja, usia yang lebih tua tidak otomatis menjamin ketakwaan yang lebih tinggi. Akan tetapi, dari sudut pandang pendidikan hati, kita diajak untuk menghormati mereka dan tidak tergesa-gesa menilai derajat mereka di sisi Allah.

Pelajarannya: Hormati orang yang lebih tua, hargai pengalamannya, dan jangan merasa diri lebih unggul hanya karena memiliki kelebihan tertentu.

3. Ketika bertemu orang berilmu

Nasihatnya:

هَذَا أُعْطِيَ مَا لَمْ أَبْلُغْ وَنَالَ مَا لَمْ أَنَلْ وَعَلِمَ مَا جَهِلْتُ وَهُوَ يَعْمَلُ بِعِلْمِهِ

“Orang ini telah memperoleh apa yang belum kucapai, mendapatkan apa yang belum kudapatkan, mengetahui apa yang belum kuketahui, dan ia mengamalkan ilmunya.”

Orang berilmu mengingatkan kita bahwa pengetahuan yang kita miliki sangat terbatas. Ada banyak hal yang belum kita pelajari dan banyak kebijaksanaan yang belum kita capai.

Bahkan, nasihat ini tidak berhenti pada penguasaan ilmu, tetapi menekankan pengamalan ilmu. Ilmu yang bermanfaat seharusnya membentuk kerendahan hati, memperbaiki akhlak, dan meningkatkan tanggung jawab.

Pelajarannya: Jadikan kelebihan orang lain sebagai motivasi untuk belajar, bukan alasan untuk iri atau merendahkannya.

4. Ketika bertemu orang yang kurang berilmu

Nasihatnya:

هَذَا عَصَى اللَّهَ بِجَهْلٍ وَأَنَا عَصَيْتُهُ بِعِلْمٍ

“Orang ini bermaksiat kepada Allah karena ketidaktahuan, sedangkan aku bermaksiat kepada-Nya dalam keadaan mengetahui.”

Bagian ini merupakan teguran keras terhadap orang yang mempunyai ilmu agama tetapi tidak mengamalkannya. Mengetahui suatu kewajiban atau larangan seharusnya mendorong seseorang untuk lebih bertanggung jawab.

Akan tetapi, ungkapan tersebut bukan berarti semua orang yang kurang berilmu pasti lebih baik daripada orang berilmu. Maksudnya ialah kita tidak boleh merendahkan orang yang belum mengetahui sesuatu, sebab keadaan batin, tingkat pemahaman, dan akhir kehidupan seseorang tidak sepenuhnya kita ketahui.

Pelajarannya: Ilmu harus melahirkan adab dan amal. Jangan menggunakan pengetahuan untuk menyombongkan diri atau mempermalukan orang lain.

5. Ketika bertemu orang yang belum beriman kepada Islam

Nasihatnya:

لَا أَدْرِي عَسَى أَنْ يُسْلِمَ فَيُخْتَمَ لَهُ بِخَيْرِ الْعَمَلِ وَعَسَى أَنْ أَكْفُرَ فَيُخْتَمَ لِي بِسُوءِ الْعَمَلِ

“Aku tidak mengetahui; barangkali ia akan masuk Islam sehingga akhir hidupnya ditutup dengan amal yang baik, dan barangkali aku tergelincir sehingga akhir hidupku ditutup dengan keburukan.”

Pesan ini mengajarkan kesadaran bahwa kita tidak mengetahui bagaimana akhir kehidupan seseorang. Orang yang hari ini belum menerima Islam mungkin kelak memperoleh hidayah. Sebaliknya, orang yang saat ini merasa dirinya beriman tetap harus menjaga iman dan amalnya hingga akhir hayat.

Bagi seorang Muslim, sikap ini seharusnya melahirkan kerendahan hati, doa, dan dakwah yang bijaksana, bukan sikap merasa berhak memastikan nasib akhir seseorang.

Pelajarannya: Jangan sombong dengan keadaan diri sekarang. Mintalah kepada Allah keteguhan iman dan akhir kehidupan yang baik (husnul khatimah).

C. Apa inti dari nasihat tersebut?

Seluruh nasihat di atas berpusat pada satu prinsip: jangan merasa mengetahui kedudukan seseorang di sisi Allah secara pasti.

Kita dapat menilai tindakan berdasarkan ukuran syariat, membedakan perilaku yang benar dan salah, serta memberikan nasihat ketika diperlukan. Namun, menilai suatu perbuatan tidak sama dengan memastikan derajat akhir seseorang di sisi Allah.

Sikap rendah hati bukan berarti menganggap semua tindakan benar. Kita tetap perlu menegakkan kebenaran, tetapi tanpa kesombongan dan tanpa mengklaim bahwa diri sendiri pasti lebih suci.

4. Jadilah Bagian dari Masyarakat, Bukan Orang yang Merasa Paling Istimewa

Ungkapan ketiga berbunyi:

وَكُنْ عِنْدَ النَّاسِ رَجُلًا مِنَ النَّاسِ

“Jadilah di hadapan manusia sebagai salah seorang dari mereka.”

Maksudnya, bergaullah dengan manusia secara wajar, rendah hati, tidak menganggap diri sebagai pusat perhatian, dan tidak menuntut perlakuan istimewa hanya karena jabatan, ilmu, kekayaan, atau kedudukan sosial.

A. Menghindari sikap merasa lebih tinggi

Syekh Nawawi al-Bantani menjelaskan bahwa seseorang hendaknya tidak menonjolkan dirinya sebagai pribadi yang merasa berbeda dan lebih tinggi daripada orang lain.

Seseorang mungkin memiliki jabatan sebagai pemimpin, guru, pengasuh pesantren, dosen, pejabat, atau tokoh masyarakat. Akan tetapi, jabatan tersebut merupakan amanah, bukan alasan untuk bersikap angkuh.

Pemimpin yang rendah hati tetap dihormati bukan karena menuntut penghormatan, melainkan karena keadilan, kebijaksanaan, dan kepeduliannya terhadap orang lain.

Demikian pula orang yang berilmu. Ia tidak perlu menyembunyikan ilmunya, tetapi hendaknya menyampaikannya dengan bahasa yang baik dan tidak menjadikan pengetahuan sebagai alat untuk merendahkan orang lain.

B. Rendah hati bukan berarti menghilangkan kewibawaan

Penting untuk membedakan antara tawadhu’ dan sikap tidak tegas.

  • Tawadhu’: tidak sombong, menghormati orang lain, dan tidak menuntut keistimewaan.
  • Lemah dalam prinsip: membiarkan kesalahan karena takut tidak disukai.
  • Kesombongan: merasa lebih mulia dan merendahkan orang lain.

Seorang kepala madrasah, misalnya, dapat bersikap ramah kepada guru dan tenaga kependidikan, mendengarkan masukan mereka, serta tetap tegas dalam menegakkan disiplin. Kerendahan hati tidak menghilangkan tanggung jawab kepemimpinan.

Justru, pemimpin yang mampu mendengarkan orang lain tanpa kehilangan prinsip menunjukkan kematangan karakter.

C. Doa untuk membentuk jiwa yang rendah hati

Dalam teks yang dikutip, terdapat doa:

اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي صَبُورًا، وَاجْعَلْنِي شَكُورًا، وَاجْعَلْنِي فِي عَيْنِي صَغِيرًا، وَفِي أَعْيُنِ النَّاسِ كَبِيرًا

Allāhummaj‘alnī ṣabūran, waj‘alnī syakūran, waj‘alnī fī ‘ainī ṣaghīran, wa fī a‘yunin-nāsi kabīrā.

Artinya:

“Ya Allah, jadikanlah aku orang yang sabar, jadikanlah aku orang yang banyak bersyukur, jadikanlah aku kecil dalam pandanganku sendiri, dan besar dalam pandangan manusia.”

Doa ini memuat empat permohonan yang saling melengkapi.

  1. Menjadi pribadi yang sabar (ṣabūran). Mampu menahan diri ketika menghadapi kesulitan, kritik, kekecewaan, dan perlakuan yang tidak menyenangkan.
  2. Menjadi pribadi yang bersyukur (syakūran). Menyadari bahwa ilmu, jabatan, kesehatan, keluarga, dan kesempatan berbuat baik merupakan nikmat Allah yang harus dipertanggungjawabkan.
  3. Merasa kecil dalam pandangan diri sendiri. Tidak membanggakan diri, tidak mudah merasa paling benar, dan senantiasa menyadari kekurangan pribadi.
  4. Menjadi besar dalam pandangan manusia. Bukan melalui pencitraan atau tuntutan penghormatan, melainkan melalui akhlak, amanah, pelayanan, ilmu yang bermanfaat, dan kontribusi nyata.

Ada keseimbangan yang indah di sini: seseorang tidak perlu sibuk meninggikan citra dirinya, tetapi hendaknya terus memperbaiki kualitas dirinya. Biarlah kemuliaan tumbuh dari manfaat yang dirasakan orang lain.

Perlu dicatat, doa ini disajikan sesuai redaksi dalam teks yang dikutip. Ia tidak perlu diperlakukan sebagai hadis Nabi yang sahih tanpa penelusuran sumber dan sanad tersendiri.

5. Relevansi Maqalah dalam Kehidupan Modern

Maqalah ini sangat relevan dalam kehidupan sosial, pendidikan, kepemimpinan, dan penggunaan media digital.

A. Dalam dunia pendidikan

Guru dan dosen hendaknya tidak merasa paling pintar hanya karena memiliki gelar akademik. Ilmu yang tinggi harus diiringi kerendahan hati, kesediaan menerima kritik, dan keteladanan moral.

B. Dalam kepemimpinan

Pemimpin perlu menyadari bahwa jabatan adalah amanah. Ia harus bersedia mendengar masukan, menghargai kontribusi anggota, dan tidak menggunakan kekuasaan untuk membangun kultus pribadi.

C. Dalam media sosial

Jangan mengukur kemuliaan diri dari jumlah pengikut, tanda suka, komentar, atau viralitas. Popularitas digital tidak otomatis menunjukkan kedalaman ilmu, keikhlasan, ataupun kemuliaan akhlak.

D. Dalam kehidupan bermasyarakat

Hargai orang lain tanpa memandang status sosialnya. Seseorang yang sederhana mungkin mempunyai kebaikan besar yang tidak terlihat, sementara orang yang tampak berkedudukan tinggi tetap membutuhkan nasihat dan perbaikan diri.

6. Tiga Prinsip Utama yang Harus Dipraktikkan

Pertama: Ihsan kepada Allah

Beribadah dan berbuat baik dengan ikhlas, terus memperbaiki kualitas amal, serta tidak menjadikan kesalehan sebagai sarana memperoleh pujian.

Kedua: Muhasabah terhadap diri sendiri

Memeriksa niat, mengakui kesalahan, memperbaiki kekurangan, dan tidak memastikan bahwa diri sendiri lebih mulia daripada orang lain.

Ketiga: Tawadhu’ terhadap sesama manusia

Menghormati orang lain, tidak menuntut keistimewaan, dan tetap menjaga prinsip kebenaran serta tanggung jawab.

7. Kesimpulan: Semakin Tinggi Ilmu, Semakin Rendah Hati

Maqalah ke-21 dalam Syarah Nashaihul ‘Ibad mengajarkan bahwa kemuliaan spiritual tidak seharusnya melahirkan kesombongan. Semakin seseorang berusaha mendekatkan diri kepada Allah, semakin ia menyadari keterbatasan dirinya dan semakin berhati-hati dalam menilai orang lain.

Menjadi yang terbaik di sisi Allah berarti terus berusaha meningkatkan iman, ketakwaan, keikhlasan, dan amal saleh. Memandang diri dengan penuh introspeksi berarti tidak mudah merasa suci dan selalu membuka ruang untuk memperbaiki diri. Adapun menjadi bagian dari manusia berarti hidup dengan rendah hati, menghormati sesama, dan tidak menjadikan kelebihan sebagai alasan untuk merendahkan orang lain.

Namun, rendah hati bukan berarti menganggap semua orang selalu benar atau mengabaikan kesalahan. Kita tetap harus membedakan kebenaran dan kebatilan, menegakkan keadilan, serta memberikan nasihat dengan cara yang bijaksana. Yang harus dihindari adalah kesombongan dan klaim bahwa diri sendiri pasti lebih mulia di sisi Allah.

Pesan penutup:

Jangan sibuk membuktikan bahwa dirimu lebih baik daripada orang lain. Sibuklah memperbaiki dirimu agar menjadi lebih baik di hadapan Allah. Jangan menuntut manusia mengakui kemuliaanmu; jadilah pribadi yang membawa manfaat, menjaga adab, dan terus memperbaiki amal.

Sebab, ukuran keberhasilan seorang hamba bukanlah seberapa tinggi ia menempatkan dirinya di hadapan manusia, melainkan seberapa tulus ia beribadah kepada Allah dan seberapa baik ia memperlakukan sesama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *