(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّانِيَةُ وَالْأَرْبَعُونَ (عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: [حُبِّبَ إِلَيَّ مِنْ دُنْيَاكُمْ أَيْ مَحْبُوبَاتِكُمْ مِمَّا بَيْنَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ (ثَلَاثٌ: الطِّيبُ وَالنِّسَاءُ وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ])
(Dan) maqalah yang keempat puluh dua: Dari Rasulullah ﷺ, sesungguhnya beliau bersabda, “Dijadikan aku mencintai dari dunia kalian”, maksudnya dari perkara-perkara yang kalian sukai yang terdapat di antara langit dan bumi, “tiga perkara: wewangian, perempuan, dan dijadikan penyejuk mataku di dalam salat.”
وَهَذِهِ الْخِصَالُ الَّتِي وَقَعَتْ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ لَيْسَتْ مِنَ الدُّنْيَا فِي شَيْءٍ لِأَنَّ كُلَّ مَا كَانَ لِلَّهِ تَعَالَى لَيْسَ مِنَ الدُّنْيَا كَالَّذِي لَا بُدَّ مِنْهُ مِنَ الْقُوْتِ وَالْمَسْكَنِ وَالْمَلْبَسِ كَمَا قَالَهُ الشَّيْخُ خَلِيلُ الرَّشِيْدِيُّ فِي الْمَجَالِسِ الرَّائِقَةِ
Perkara-perkara yang terdapat pada diri Rasulullah ﷺ tersebut pada hakikatnya bukan termasuk kecintaan terhadap dunia yang tercela, karena segala sesuatu yang dilakukan karena Allah Ta‘ala tidak termasuk dunia dalam pengertian yang tercela. Demikian pula perkara-perkara yang memang menjadi kebutuhan hidup, seperti makanan, tempat tinggal, dan pakaian, sebagaimana dikatakan oleh Syekh Khalil ar-Rasyidi dalam kitab al-Majālis ar-Rā’iqah.
(وَكَانَ مَعَهُ) ﷺ (أَصْحَابُهُ) رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ (جُلُوسًا فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ: صَدَقْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَحُبِّبَ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا أَيْ مِمَّا كَانَ بَيْنَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ (ثَلَاثٌ: النَّظْرُ إِلَى وَجْهِ رَسُولِ اللَّهِ) ﷺ (وَإِنْفَاقُ مَالِي عَلَى رَسُولِ اللَّهِ) ﷺ (وَأَنْ تَكُونَ ابْنَتِي تَحْتَ رَسُولِ اللَّهِ) ﷺ
Ketika itu Rasulullah ﷺ duduk bersama para sahabatnya Radhiallahu ‘anhum. Kemudian Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiallahu ‘anhu berkata, “Engkau benar, wahai Rasulullah. Aku pun dijadikan mencintai dari dunia ini”, yaitu dari segala sesuatu yang berada di antara langit dan bumi, “tiga perkara: memandang wajah Rasulullah ﷺ, membelanjakan hartaku untuk Rasulullah ﷺ, dan putriku menjadi istri Rasulullah ﷺ.”
(فَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: صَدَقْتَ يَا أَبَا بَكْرٍ. وَحُبِّبَ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا ثَلَاثٌ: الْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ وَالثَّوْبُ الْخَلَقُ) بِفَتْحَتَيْنِ أَيْ الْبَالِي. رُوِيَ أَنَّهُ كَانَ فِي جُبَّتِهِ أَرْبَعَ عَشْرَةَ رُقْعَةً
Kemudian Umar Radhiallahu ‘anhu berkata, “Engkau benar, wahai Abu Bakar. Aku pun dijadikan mencintai dari dunia ini tiga perkara: memerintahkan kepada yang ma‘ruf, mencegah dari yang mungkar, dan pakaian yang lusuh.” Kata al-khalaq dibaca dengan dua fathah, yang berarti pakaian yang sudah usang. Diriwayatkan bahwa pada jubah beliau terdapat empat belas tambalan.
(فَقَالَ عُثْمَانُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: صَدَقْتَ يَا عُمَرُ. وَحُبِّبَ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا ثَلَاثٌ: إِشْبَاعُ الْجِيْعَانِ وَكِسْوَةُ الْعُرْيَانِ وَتِلَاوَةُ الْقُرْآنِ) رُوِيَ أَنَّهُ خَتَمَ الْقُرْآنَ فِي رَكْعَتَيْنِ فِي اللَّيْلِ
Kemudian Utsman Radhiallahu ‘anhu berkata, “Engkau benar, wahai Umar. Aku pun dijadikan mencintai dari dunia ini tiga perkara: mengenyangkan orang-orang yang lapar, memberikan pakaian kepada orang-orang yang tidak berpakaian, dan membaca Al-Qur’an.” Diriwayatkan bahwa beliau mengkhatamkan Al-Qur’an dalam dua rakaat pada malam hari.
(فَقَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ) وَكَرَّمَ وَجْهَهُ (صَدَقْتَ يَا عُثْمَانُ. وَحُبِّبَ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا ثَلَاثٌ: الْخِدْمَةُ لِلضَّيْفِ، وَالصَّوْمُ فِي الصَّيْفِ) أَيْ فِي وَقْتِ شِدَّةِ الْحَرِّ (وَالضَّرْبُ) أَيْ لِلْأَعْدَاءِ (بِالسَّيْفِ).
Kemudian Ali Radhiallahu ‘anhu — wa karramallahu wajhahu semoga Allah memuliakan wajahnya — berkata, “Engkau benar, wahai Utsman. Aku pun dijadikan mencintai dari dunia ini tiga perkara: melayani tamu, berpuasa pada musim panas”, yaitu pada saat cuaca sangat panas, “dan memukul musuh dengan pedang,” yaitu memerangi musuh.
(فَبَيْنَمَا هُمْ كَذَلِكَ إِذْ جَاءَ جِبْرِيلُ) عَلَيْهِ السَّلَامُ لِلنَّبِيِّ ﷺ (وَقَالَ) أَيْ سَيِّدُنَا جِبْرِيلُ (أَرْسَلَنِي اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَمَّا سَمِعَ مَقَالَتَكُمْ وَأَمَرَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْ تَسْأَلَنِي عَمَّا أُحِبُّ أَنْ كُنْتُ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا)
Ketika mereka sedang dalam keadaan demikian, tiba-tiba Malaikat Jibril ‘Alaihissalam datang kepada Nabi ﷺ dan berkata — maksudnya Jibril berkata — “Allah Tabāraka wa Ta‘ālā mengutusku setelah mendengar perkataan kalian. Allah memerintahkanmu, wahai Rasulullah, agar engkau bertanya kepadaku tentang apa yang aku sukai seandainya aku termasuk penduduk dunia.”
(فَقَالَ) أَيْ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ (مَا تُحِبُّ) يَا جِبْرِيلُ (أَنْ كُنْتَ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا، فَقَالَ: إِرْشَادُ الضَّالِّينَ) إِلَى الطَّرِيقِ الْمُسْتَقِيمِ (وَمُؤَانَسَةُ الْغَرَبَاءِ الْقَانِتِينَ) أَيْ الْمُطِيعِينَ لِلَّهِ تَعَالَى الْخَاشِعِينَ لَهُ تَعَالَى (وَمُعَاوَنَةُ أَهْلِ الْعِيَالِ الْمُعْسِرِينَ) أَيْ الْفُقَرَاءِ.
Kemudian Rasulullah ﷺ bertanya, “Apa yang engkau sukai, wahai Jibril, seandainya engkau termasuk penduduk dunia?” Jibril menjawab, “Memberikan petunjuk kepada orang-orang yang tersesat” menuju jalan yang lurus, “menemani orang-orang asing yang taat beribadah”, yaitu orang-orang yang taat kepada Allah Ta‘ala dan khusyuk kepada-Nya, “serta membantu keluarga-keluarga yang mengalami kesulitan,” yaitu orang-orang fakir.
(قَالَ جِبْرِيلُ) عَلَيْهِ السَّلَامُ (يُحِبُّ رَبُّ الْعِزَّةِ جَلَّ جَلَالُهُ مِنْ عَبِيْدِهِ ثَلَاثَ خِصَالٍ: بَذْلَ الْاِسْتِطَاعَةِ) أَيْ إِعْطَاءَ الْقُدْرَةِ فِي طَاعَةِ اللَّهِ تَعَالَى (وَالْبُكَاءَ عِنْدَ النَّدَامَةِ) أَيْ عَلَى فِعْلِ الْمَعَاصِي (وَالصَّبْرَ عِنْدَ الْفَاقَةِ) أَيْ وُجُودِ الْحَاجَةِ.
Jibril ‘Alaihissalam berkata, “Rabbul-‘Izzah, Yang Mahamulia lagi Mahaagung, mencintai dari hamba-hamba-Nya tiga sifat: mengerahkan kemampuan,” yaitu menggunakan kemampuan yang dimiliki dalam ketaatan kepada Allah Ta‘ala; “menangis ketika penyesalan,” yaitu menyesali perbuatan maksiat yang telah dilakukan; dan “bersabar ketika mengalami kesulitan,” yaitu ketika berada dalam keadaan membutuhkan atau mengalami kekurangan.