Bab 33: Berbuat lembut kepada anak yatim, anak perempuan, orang-orang lemah, orang miskin dan orang yang sedang mengalami kesulitan; berbuat baik kepada mereka, menyayangi mereka, bersikap rendah hati dan tidak merendahkan mereka.
Teks Matan Hadits
وَعَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَيْسَ الْمِسْكِينُ الَّذِي تَرُدُّهُ التَّمْرَةُ وَالتَّمْرَتَانِ، وَلَا اللُّقْمَةُ وَاللُّقْمَتَانِ، إِنَّمَا الْمِسْكِينُ الَّذِي يَتَعَفَّفُ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
1. Terjemah
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bukanlah orang miskin itu orang yang ditolak hanya karena satu atau dua buah kurma, dan bukan pula orang yang ditolak hanya karena satu atau dua suapan makanan. Sesungguhnya orang miskin adalah orang yang menjaga kehormatan dirinya (dengan tidak meminta-minta).”
Muttafaq ‘alaih, diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.
2. Sanad Hadits
Salah satu sanad hadits ini dalam Shahih al-Bukhari adalah:
الإمام البخاري → إسماعيل بن عبد الله → مالك → أبو الزناد → الأعرج → أبو هريرة → رسول الله ﷺ
Artinya:
Imam al-Bukhari → Isma’il bin ‘Abdillah → Imam Malik → Abu az-Zinad → al-A’raj → Abu Hurairah → Rasulullah ﷺ.
Sanad ini bersambung sampai kepada Rasulullah ﷺ dan diriwayatkan dalam kitab Shahih al-Bukhari. Hadits dengan makna yang sama juga diriwayatkan oleh Imam Muslim.
3. Profil Perawi
A. Abu Hurairah رضي الله عنه
Nama yang masyhur:
عبد الرحمن بن صخر الدوسي
Beliau berasal dari kabilah Daus di Yaman dan termasuk sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah ﷺ.
Beliau masuk Islam pada masa Nabi ﷺ dan kemudian banyak menyertai Rasulullah ﷺ.
Abu Hurairah dikenal memiliki perhatian besar terhadap ilmu dan hafalan hadits.
Karena beliau seorang sahabat, maka dalam prinsip ilmu hadits, para sahabat dinilai adil.
B. Al-A’raj
Nama beliau:
عبد الرحمن بن هرمز الأعرج
Beliau merupakan seorang tabi’in yang terkenal dalam ilmu hadits.
Beliau meriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه dan termasuk perawi yang terpercaya.
C. Abu az-Zinad
Nama beliau:
عبد الله بن ذكوان
Kuniyahnya Abu az-Zinad.
Beliau termasuk tabi’in dan merupakan salah seorang ulama periwayatan hadits di Madinah.
D. Imam Malik
Nama lengkap:
مالك بن أنس بن مالك الأصبحي
Wafat tahun 179 H.
Beliau adalah salah seorang imam besar umat Islam, pendiri madzhab Maliki, sekaligus ulama hadits terkemuka.
Karya beliau yang terkenal adalah al-Muwaththa’.
E. Isma’il bin ‘Abdillah
Beliau adalah Isma’il bin ‘Abdillah bin Uwais, salah seorang guru/perawi Imam al-Bukhari.
Dengan demikian, sanad hadits ini merupakan sanad yang bersambung dan diterima oleh para ulama hadits.
4. Takhrij Hadits
Hadits ini termasuk hadits muttafaq ‘alaih, yakni diriwayatkan oleh:
- Imam al-Bukhari, dalam Shahih al-Bukhari, di antaranya no. 1479.
- Imam Muslim, dalam Shahih Muslim, di antaranya no. 1039.
Dalam riwayat al-Bukhari terdapat penjelasan yang lebih panjang mengenai ciri orang miskin yang dimaksud Nabi ﷺ.
Status Hadits:
صَحِيْحٌ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Hadits shahih yang disepakati oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.
5. Penjelasan Mufradat
الْمِسْكِينُ
Al-miskin berarti orang yang berada dalam keadaan membutuhkan.
تَرُدُّهُ
Berarti:
“Engkau menolaknya.”
التَّمْرَةُ وَالتَّمْرَتَانِ
“Satu atau dua buah kurma.”
Kurma merupakan makanan pokok yang sangat dikenal masyarakat Arab ketika itu.
اللُّقْمَةُ وَاللُّقْمَتَانِ
“Satu atau dua suapan makanan.”
يَتَعَفَّفُ
Inilah kata kunci hadits.
Ta’affuf berarti menjaga kehormatan diri, menahan diri dari meminta-minta, tidak menghinakan diri di hadapan manusia, dan berusaha menyembunyikan kebutuhannya.
6. Makna Hadits
Rasulullah ﷺ tidak sedang mengatakan bahwa setiap orang yang meminta-minta bukan orang miskin.
Tetapi Nabi ﷺ ingin mengoreksi cara manusia dalam memahami kemiskinan.
Kemiskinan yang paling mudah dikenali adalah kemiskinan yang terlihat dan disampaikan.
Seseorang datang:
“Saya membutuhkan bantuan.”
Masyarakat kemudian mengetahui bahwa ia membutuhkan.
Namun ada orang lain yang:
- tidak meminta;
- tetap bekerja;
- tetap tersenyum;
- tetap berpakaian layak;
- tidak menceritakan kesulitannya;
- tetapi kebutuhan hidupnya sebenarnya tidak tercukupi.
Orang seperti inilah yang sering tidak terlihat oleh masyarakat.
7. Ayat Al-Qur’an yang Berkaitan
Ayat yang paling kuat kaitannya dengan hadits ini adalah:
QS. Al-Baqarah: 273
لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا ۗ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ
Artinya:
“(Apa yang kamu infakkan) adalah untuk orang-orang fakir yang terhalang (usahanya karena jihad) di jalan Allah, sehingga mereka tidak dapat berusaha di bumi. Orang yang tidak mengetahui menyangka mereka adalah orang-orang kaya karena mereka menjaga diri dari meminta-minta. Engkau mengenal mereka dari ciri-cirinya. Mereka tidak meminta kepada manusia secara mendesak. Dan apa pun harta yang baik yang kamu infakkan, sungguh Allah Maha Mengetahuinya.”
8. Penafsiran Imam Ibnu Katsir
Imam Ibnu Katsir رحمه الله dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim menjelaskan QS. Al-Baqarah ayat 273 dengan menampilkan sejumlah riwayat yang menerangkan karakter orang-orang fakir yang dimaksud ayat tersebut.
Mereka adalah orang-orang yang mempunyai kebutuhan, tetapi karena menjaga kehormatan diri, mereka tidak meminta-minta kepada manusia.
Allah berfirman:
يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ
“Orang yang tidak mengetahui menyangka mereka kaya karena mereka menjaga diri dari meminta-minta.”
Ibnu Katsir juga mengaitkan makna ayat ini dengan hadits Abu Hurairah رضي الله عنه:
لَيْسَ الْمِسْكِينُ الَّذِي تَرُدُّهُ التَّمْرَةُ وَالتَّمْرَتَانِ… إِنَّمَا الْمِسْكِينُ الَّذِي يَتَعَفَّفُ
Dengan demikian, penafsiran Ibnu Katsir memperkuat hubungan yang sangat erat antara QS. Al-Baqarah: 273 dan hadits ini.
Kesimpulan penafsiran Ibnu Katsir:
Orang yang benar-benar membutuhkan tidak selalu tampil sebagai orang yang meminta.
Bahkan sebagian orang miskin memiliki iffah, yaitu kehormatan diri yang menyebabkan mereka tidak mengungkapkan kebutuhannya kepada manusia.
Karena itu, orang yang ingin bersedekah harus mempunyai kepekaan dan ketelitian dalam mencari siapa yang sebenarnya membutuhkan.
9. Fiqih Hadits
A. Kemiskinan tidak selalu identik dengan meminta
Tidak boleh menjadikan:
“Dia tidak meminta”
sebagai bukti bahwa:
“Dia tidak miskin.”
B. Ta’affuf merupakan akhlak terpuji
Islam menghargai orang yang berusaha mempertahankan kehormatan dirinya.
Ia tidak menjadikan meminta sebagai kebiasaan.
C. Pemberi sedekah hendaknya aktif mencari mustahik
Orang yang memiliki kelebihan harta tidak semestinya hanya menunggu orang datang kepadanya.
Ia perlu mencari:
siapa yang membutuhkan tetapi tidak mampu meminta.
D. Tidak boleh merendahkan orang miskin
Hadits ini tidak boleh digunakan untuk mencela orang yang meminta bantuan.
Seseorang mungkin benar-benar berada dalam keadaan darurat sehingga harus meminta.
Yang dipuji dalam hadits adalah iffah, bukan sekadar tidak meminta.
10. Faidah dan Pelajaran Hadits
1. Jangan menilai seseorang hanya dari penampilan
Ada orang yang terlihat baik-baik saja tetapi sebenarnya sedang mengalami kesulitan.
2. Jadilah orang yang peka
Jangan menunggu:
“Dia meminta baru saya membantu.”
Tetapi:
“Saya harus mengetahui siapa yang membutuhkan.”
3. Jagalah kehormatan penerima bantuan
Memberikan bantuan tidak boleh menjadi alasan untuk mempermalukan orang yang dibantu.
4. Sedekah membutuhkan ilmu
Memberikan bantuan bukan sekadar memberikan uang, tetapi harus mengetahui siapa yang paling membutuhkan dan bagaimana bantuan tersebut diberikan secara tepat.
5. Kemiskinan bisa tersembunyi
Inilah salah satu pesan sosial paling kuat dalam hadits ini.