Pelajaran dari Hadits Abu Bakar, Salman, Suhaib, dan Bilal رضي الله عنهم (Bahasan Riyadhus Shalihin Hadits nomor 261)
Pendahuluan
Islam tidak mengajarkan kita untuk menilai seseorang hanya dari harta, keturunan, jabatan, bangsa, atau kedudukan sosialnya. Di hadapan Allah, ukuran kemuliaan yang sebenarnya adalah iman dan ketakwaan. Karena itu, orang yang tampak sederhana di mata manusia bisa jadi memiliki kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah. Sebaliknya, orang yang memiliki kedudukan tinggi di tengah masyarakat belum tentu memiliki kemuliaan yang sama di sisi-Nya.
Salah satu hadits yang memberikan pelajaran sangat indah tentang hal tersebut adalah kisah Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu bersama Salman al-Farisi, Suhaib ar-Rumi dan Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhum. Hadits ini dicantumkan oleh Imam an-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin pada Bab ke-33, yaitu bab tentang berbuat lembut kepada kaum lemah, orang miskin dan orang-orang yang hatinya terluka, serta anjuran untuk tawaduk dan merendahkan sayap kepada mereka.
Teks Hadits
عَنْ أَبِي هُبَيْرَةَ عَائِذِ بْنِ عَمْرٍو الْمُزَنِيِّ، وَهُوَ مِنْ أَهْلِ بَيْعَةِ الرِّضْوَانِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ أَبَا سُفْيَانَ أَتَى عَلَى سَلْمَانَ وَصُهَيْبٍ وَبِلَالٍ فِي نَفَرٍ، فَقَالُوا: مَا أَخَذَتْ سُيُوفُ اللَّهِ مِنْ عَدُوِّ اللَّهِ مَأْخَذَهَا، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَتَقُولُونَ هَذَا لِشَيْخِ قُرَيْشٍ وَسَيِّدِهِمْ؟ فَأَتَى النَّبِيَّ ﷺ فَأَخْبَرَهُ، فَقَالَ: «يَا أَبَا بَكْرٍ، لَعَلَّكَ أَغْضَبْتَهُمْ، لَئِنْ كُنْتَ أَغْضَبْتَهُمْ لَقَدْ أَغْضَبْتَ رَبَّكَ». فَأَتَاهُمْ فَقَالَ: يَا إِخْوَتَاهُ، أَأَغْضَبْتُكُمْ؟ قَالُوا: لَا، يَغْفِرُ اللَّهُ لَكَ يَا أُخَيَّ.
Artinya: Dari Abu Hubairah ‘Aidz bin ‘Amr al-Muzani radhiyallahu ‘anhu, salah seorang yang mengikuti Bai‘at Ridhwan, bahwa Abu Sufyan melewati Salman, Suhaib dan Bilal bersama beberapa orang. Mereka berkata, “Pedang-pedang Allah belum memberikan balasan yang semestinya kepada musuh Allah itu.” Abu Bakar berkata, “Apakah kalian mengatakan demikian kepada seorang tua Quraisy dan pemimpin mereka?” Kemudian Abu Bakar datang kepada Nabi ﷺ dan memberitahukan hal itu. Nabi ﷺ bersabda, “Wahai Abu Bakar, barangkali engkau telah membuat mereka marah. Jika engkau benar-benar telah membuat mereka marah, sungguh engkau telah membuat Tuhanmu murka.” Kemudian Abu Bakar mendatangi mereka dan berkata, “Wahai saudara-saudaraku, apakah aku telah membuat kalian marah?” Mereka menjawab, “Tidak. Semoga Allah mengampunimu, wahai saudaraku.”
Sanad dan Sumber Hadits
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim melalui sanad: مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمٍ، عَنْ بَهْزٍ، عَنْ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ قُرَّةَ، عَنْ عَائِذِ بْنِ عَمْرٍو. Para perawi dalam sanad tersebut merupakan perawi yang dikenal dalam kitab-kitab hadits. ‘Aidz bin ‘Amr adalah seorang sahabat Nabi ﷺ dan termasuk peserta Bai‘at Ridhwan. Mu‘awiyah bin Qurrah dan Tsabit al-Bunani merupakan tabi‘in yang dikenal dalam periwayatan hadits, sedangkan Hammad bin Salamah dan Bahz bin Asad termasuk imam ahli hadits. Hadits ini terdapat dalam Shahih Muslim no. 2504dan dicantumkan Imam an-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin no. 261. Karena diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya, hadits ini berstatus shahih.
Siapakah Salman, Suhaib dan Bilal?
Salman al-Farisi, Suhaib ar-Rumi dan Bilal bin Rabah adalah tiga sahabat yang memiliki perjalanan hidup yang luar biasa. Mereka bukan bagian dari kelompok bangsawan Quraisy. Salman berasal dari Persia, Suhaib dikenal sebagai ar-Rumi, sedangkan Bilal berasal dari Habasyah dan pernah menjadi seorang budak. Secara ukuran sosial masyarakat Arab saat itu, mereka bukan orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi. Namun Islam mengangkat derajat mereka karena iman dan ketakwaan. Mereka menjadi sahabat Rasulullah ﷺ yang memiliki kedudukan mulia. Dari sinilah kita memahami bahwa Islam tidak membedakan kemuliaan seseorang berdasarkan bangsa, warna kulit, harta atau status sosial.
Abu Sufyan dan Ukuran Kemuliaan Dunia
Dalam hadits disebutkan bahwa Abu Bakar berkata tentang Abu Sufyan: شَيْخِ قُرَيْشٍ وَسَيِّدِهِمْ, “seorang tua Quraisy dan pemimpin mereka.” Abu Sufyan memang merupakan tokoh besar Quraisy. Karena itu Abu Bakar merasa tidak pantas jika seseorang yang memiliki kedudukan seperti itu dibicarakan dengan ucapan yang keras. Namun Rasulullah ﷺ memberikan pelajaran yang lebih dalam. Kedudukan sosial seseorang tidak boleh menyebabkan kita mengabaikan kemuliaan orang-orang beriman yang secara duniawi tampak lebih rendah. Di sinilah Islam mengajarkan keseimbangan: menghormati seseorang karena kedudukannya boleh, tetapi jangan sampai kedudukan dunia membuat kita merendahkan orang lain.
Ukuran Kemuliaan Menurut Al-Qur’an
Prinsip tersebut ditegaskan Allah dalam Al-Qur’an:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. al-Hujurat: 13).
Allah juga berfirman:
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ، وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
“Bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang dengan mengharap keridaan-Nya. Janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia.” (QS. al-Kahfi: 28).
Ayat tersebut sangat sesuai dengan pesan hadits. Jangan sampai kita lebih memperhatikan orang yang memiliki kedudukan duniawi, sementara kita mengabaikan orang-orang sederhana yang dekat kepada Allah.
Mengapa Abu Bakar Ditegur Nabi ﷺ?
Teguran Nabi ﷺ kepada Abu Bakar bukan berarti Abu Bakar adalah orang yang buruk. Abu Bakar adalah sahabat yang sangat mulia dan manusia terbaik dari umat Nabi Muhammad ﷺ setelah beliau. Namun seorang yang mulia tetap dapat memperoleh pendidikan dan koreksi. Inilah salah satu keindahan akhlak Abu Bakar. Ketika Nabi ﷺ memberitahukan bahwa mungkin ia telah membuat Salman, Suhaib dan Bilal marah, Abu Bakar tidak mempertahankan pendapatnya. Ia tidak mengatakan bahwa dirinya lebih senior atau lebih mengetahui. Ia langsung datang kepada mereka dan bertanya, يَا إِخْوَتَاهُ، أَأَغْضَبْتُكُمْ؟ — “Wahai saudara-saudaraku, apakah aku telah membuat kalian marah?”
Pelajaran dari Sikap Abu Bakar
Sikap Abu Bakar merupakan contoh tawaduk yang sangat tinggi. Beliau tidak merasa gengsi untuk meminta maaf kepada orang-orang yang secara sosial berada jauh di bawah kedudukannya. Inilah akhlak seorang mukmin: ketika mengetahui kemungkinan telah menyakiti hati orang lain, ia segera memperbaikinya. Meminta maaf bukan tanda seseorang menjadi rendah. Justru orang yang mampu meminta maaf menunjukkan bahwa ia mampu mengalahkan kesombongan dan egonya sendiri.
Pelajaran dari Salman, Suhaib dan Bilal
Salman, Suhaib dan Bilal juga memberikan contoh yang tidak kalah indah. Ketika Abu Bakar datang meminta klarifikasi, mereka tidak memperpanjang persoalan. Mereka menjawab, لَا، يَغْفِرُ اللَّهُ لَكَ يَا أُخَيَّ — “Tidak, semoga Allah mengampunimu, wahai saudaraku.” Mereka menerima permintaan maaf dengan lapang dada. Kata يَا أُخَيَّ merupakan panggilan yang lembut dan penuh kasih. Dari sini kita belajar bahwa hubungan persaudaraan harus lebih kuat daripada persoalan pribadi. Jika terjadi kesalahpahaman, jangan menjadikannya sebagai alasan untuk memutus persaudaraan.
Hubungannya dengan Bab 33 Riyadhus Shalihin
Imam an-Nawawi menempatkan hadits ini dalam Bab 33 yang berbunyi:
بَابُ مُلَاطَفَةِ الْيَتِيمِ وَالْبَنَاتِ وَسَائِرِ الضُّعَفَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْمُنْكَسِرِينَ، وَالْإِحْسَانِ إِلَيْهِمْ وَالشَّفَقَةِ عَلَيْهِمْ وَالتَّوَاضُعِ مَعَهُمْ وَخَفْضِ الْجَنَاحِ لَهُمْ
“Bab tentang bersikap lembut kepada anak yatim, anak perempuan, orang-orang lemah, orang miskin dan orang-orang yang hatinya terluka; berbuat baik kepada mereka, menyayangi mereka, tawaduk kepada mereka dan merendahkan sayap bagi mereka.” Hadits ini sangat sesuai dengan bab tersebut karena Salman, Suhaib dan Bilal secara sosial bukan golongan elite, tetapi Rasulullah ﷺ menunjukkan bahwa mereka memiliki kehormatan yang harus dijaga. Pesan utamanya adalah agar kita tidak meremehkan orang yang secara duniawi lemah.
Fiqih dan Adab yang Dapat Diambil
Hadits ini mengajarkan beberapa adab penting. Pertama, kita harus menghormati kaum lemah dan orang-orang yang sederhana. Kedua, jangan menjadikan harta, jabatan dan keturunan sebagai ukuran kemuliaan. Ketiga, orang yang melakukan kesalahan hendaknya segera meminta maaf. Keempat, orang yang dimintai maaf hendaknya berusaha memaafkan. Kelima, gunakanlah bahasa yang lembut ketika menyelesaikan persoalan. Keenam, jangan mempertahankan gengsi apabila ternyata kita telah menyakiti hati saudara kita. Semua ini merupakan bagian dari akhlak Islam yang menjaga persaudaraan dan keharmonisan masyarakat.
Makna “Menggembirakan atau Menyakiti Hati Orang Beriman”
Sabda Nabi ﷺ,
لَئِنْ كُنْتَ أَغْضَبْتَهُمْ لَقَدْ أَغْضَبْتَ رَبَّكَ
harus dipahami sesuai konteksnya. Hadits ini tidak berarti bahwa setiap orang yang marah kepada kita pasti menunjukkan bahwa Allah murka kepada kita. Seseorang bisa marah karena dinasihati, ditegur, atau keinginannya yang salah tidak dituruti. Yang menjadi perhatian dalam hadits ini adalah menyakiti hati orang-orang beriman tanpa alasan yang benar. Karena itu, seorang Muslim harus berhati-hati dalam berbicara. Jangan mudah merendahkan, mengejek, mempermalukan atau menganggap remeh orang lain.
Pelajaran untuk Kehidupan Sekarang
Pesan hadits ini sangat relevan dengan kehidupan kita. Tidak jarang manusia lebih ramah kepada orang kaya daripada kepada orang miskin, lebih menghormati pejabat daripada masyarakat biasa, dan lebih memperhatikan orang terkenal daripada orang yang tidak dikenal. Padahal boleh jadi orang yang sederhana itu lebih dekat kepada Allah. Karena itu, kita perlu belajar melihat manusia dengan ukuran yang benar. Hormatilah orang kaya karena akhlaknya, bukan semata-mata karena hartanya. Hormatilah pejabat karena amanahnya, bukan hanya karena jabatannya. Dan muliakanlah orang miskin serta orang sederhana karena mereka adalah saudara kita sesama manusia dan sesama Muslim.
Penutup
Hadits ini memperlihatkan keindahan akhlak tiga kelompok sekaligus: ketawadukan Abu Bakar, kelapangan hati Salman, Suhaib dan Bilal, serta kelembutan pendidikan Rasulullah ﷺ. Kita belajar bahwa kemuliaan tidak selalu tampak dalam pakaian, rumah, jabatan, harta atau keturunan. Bisa jadi seseorang yang tidak dikenal manusia justru sangat dikenal oleh Allah. Karena itu, jangan meremehkan orang yang sederhana. Jangan merasa tinggi karena kedudukan. Jangan mempertahankan gengsi ketika salah. Dan jangan sulit memaafkan ketika orang lain datang dengan tulus meminta maaf. Sebab pada akhirnya, ukuran yang paling menentukan bukanlah bagaimana manusia memandang kita, tetapi bagaimana Allah menilai kita. Sebagaimana firman-Nya:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.”
Sumber dan Rujukan
- Imam Muslim, Shahih Muslim, Kitab Fadha’il ash-Shahabah, Bab Fadha’il Salman wa Suhaib wa Bilal, hadits no. 2504.
- Imam an-Nawawi, Riyadhus Shalihin, Bab 33, hadits no. 261.
- Imam an-Nawawi, Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim ibn al-Hajjaj, syarah hadits tentang keutamaan Salman, Suhaib dan Bilal.
- Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari, sebagai rujukan umum dalam pembahasan biografi dan keutamaan para sahabat.
- Al-Qur’an: QS. al-Hujurat: 13; QS. al-Kahfi: 28; QS. ‘Abasa: 1–10; QS. adh-Dhuha: 9–10.