Oleh Yudin Taqyudin
Ada sesuatu yang terasa hangat dari Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Tambakberas, Jombang. Sebuah organisasi besar, dengan jutaan warga dan persoalan yang semakin kompleks, justru kembali berkumpul di sebuah pesantren. Muktamar berlangsung 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas. Bagi saya, ini bukan sekadar soal tempat. Ada semacam isyarat yang layak direnungkan: sesekali organisasi sebesar NU memang perlu pulang ke rumah asalnya—pesantren. Di sana, kita belajar bahwa kebesaran tidak selalu identik dengan kemewahan.
Pesantren punya cara sendiri dalam mendefinisikan “besar”. Seorang kiai tidak menjadi besar karena rumahnya paling luas atau kendaraannya paling bagus. Ia menjadi besar karena ilmunya membuat orang tercerahkan, akhlaknya membuat orang nyaman, dan kehadirannya membuat masyarakat merasa memiliki tempat untuk bertanya. Dari pesantren pula kita mengenal zuhud. Bukan berarti membenci dunia, apalagi sengaja hidup kekurangan. Zuhud lebih dekat kepada kemampuan untuk memiliki dunia tanpa dimiliki dunia. Harta boleh berada di tangan; jangan sampai menetap di hati.
Barangkali karena itulah kesederhanaan menjadi salah satu wajah paling indah dari tradisi kiai Nusantara. Santri boleh lupa judul kitab yang pernah diajarkan, tetapi biasanya mereka ingat hal-hal kecil: kiai yang mau duduk di lantai bersama santri, makan dengan lauk seadanya, menerima tamu tanpa banyak protokol, atau tetap menyapa orang yang datang meski namanya tidak dikenal. Hal-hal kecil semacam itu justru sering menjadi pelajaran terbesar. Kiai tidak selalu mengajarkan zuhud dengan kata-kata; kadang-kadang cukup dengan cara ia menjalani hidup.
Bogor mempunyai sosok yang sangat kuat untuk menggambarkan hal itu: KH Tubagus Muhammad Falak Pagentongan. Mama Falak dikenal sebagai ulama besar, ahli falak, mursyid tarekat, dan tokoh NU yang pengaruhnya melampaui batas Pagentongan. Tetapi semakin kita membaca kisah hidupnya, semakin terasa bahwa yang membuat beliau dikenang bukanlah kemegahan. Justru kesahajaannya yang membuat banyak orang merasa dekat. Beliau hidup dalam tradisi pesantren yang tidak mengenal jarak antara kiai dan masyarakat. Rumah dan pesantrennya menjadi tempat orang datang untuk mengaji, bertanya, meminta nasihat, atau sekadar bersilaturahmi. Kealiman tidak membuat beliau harus tampil dengan kemewahan; kewibawaan datang dengan sendirinya bersama ilmu dan akhlak.
Kesederhanaan Mama Falak juga menarik karena berjalan berdampingan dengan keluasan pengalaman hidupnya. Beliau pernah menempuh perjalanan panjang untuk mencari ilmu hingga Makkah dan kemudian kembali mengabdikan dirinya di Bogor. Pesantren Pagentongan menjadi tempat bersemainya ilmu agama, tarekat, dan perjuangan. Pada masa revolusi, kawasan Pagentongan bahkan menjadi salah satu basis perjuangan Hizbullah dan Sabilillah. Namun selepas berbagai perjalanan besar itu, yang menonjol tetaplah sosok seorang kiai yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Seolah-olah ilmu yang semakin tinggi justru membuat beliau semakin tidak membutuhkan banyak atribut untuk dihormati. Inilah kesahajaan yang sulit dibuat-buat: bukan strategi penampilan, tetapi buah dari hati yang merasa cukup dengan Allah.
Bogor juga memiliki KH Raden Abdullah bin Nuh, seorang alim, pendidik, sastrawan, dan pejuang yang banyak menghabiskan hidupnya untuk ilmu dan dakwah. Beliau mendirikan Majelis Al-Ghazali dan Pesantren Al-Ihya di Bogor. Dalam kesehariannya, beliau dikenal bersahaja. Sebuah kajian tentang pemikiran tasawufnya mencatat bahwa meskipun memiliki keluasan ilmu dan pengaruh, beliau tidak menjadikan penampilan sebagai ukuran kemuliaan. Bahkan hadiah sarung sutra yang diterimanya justru diberikan kepada putrinya. Kisah kecil itu terasa cukup untuk menggambarkan satu prinsip besar: ilmu yang benar tidak membuat seseorang haus dipandang.
Barangkali inilah yang perlu dibawa pulang dari Muktamar ke-35 NU. Bukan hanya hasil sidang, keputusan organisasi, atau siapa yang menduduki posisi tertentu, tetapi juga kesadaran bahwa NU memiliki akar yang sangat sederhana. Ia tumbuh dari pesantren, dari kiai kampung, dari pengajian yang lesehan, dari santri yang hidup apa adanya, dan dari ulama yang menghabiskan umur untuk mengajar. Maka ketika NU semakin besar, semakin modern, dan semakin kompleks, sesekali kita perlu kembali melihat ke belakang. Bukan untuk bernostalgia, melainkan untuk memastikan bahwa akar kita masih ada.
Sebab pada akhirnya, seorang kiai tidak akan dikenang hanya karena berapa banyak fasilitas yang pernah dimilikinya. Ia akan dikenang dari ilmu yang diwariskannya, santri yang pernah dididiknya, orang kecil yang pernah ditolongnya, dan keteduhan yang pernah dirasakan orang ketika berada di dekatnya. Mungkin itu pula makna paling sederhana dari pulang ke Tambakberas: pulang kepada ilmu yang rendah hati, khidmah yang tidak banyak bicara, dan kehidupan yang cukup untuk membuat hati tidak sibuk mengejar dunia. NU boleh semakin besar; semoga para kiai dan santrinya tetap punya hati yang sederhana.