1. Teks Hadits dan Terjemah
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ قَالَ: حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ الْمُغِيرَةِ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسٍ قَالَ: دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا، وَمَا هُوَ إِلَّا أَنَا وَأُمِّي وَأُمُّ حَرَامٍ خَالَتِي، إِذْ دَخَلَ عَلَيْنَا فَقَالَ لَنَا: «أَلَا أُصَلِّي بِكُمْ؟» وَذَاكَ فِي غَيْرِ وَقْتِ صَلَاةٍ، فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ: فَأَيْنَ جَعَلَ أَنَسًا مِنْهُ؟ فَقَالَ: جَعَلَهُ عَنْ يَمِينِهِ، ثُمَّ صَلَّى بِنَا، ثُمَّ دَعَا لَنَا – أَهْلَ الْبَيْتِ – بِكُلِّ خَيْرٍ مِنْ خَيْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، فَقَالَتْ أُمِّي: يَا رَسُولَ اللَّهِ، خُوَيْدِمُكَ، ادْعُ اللَّهَ لَهُ، فَدَعَا لِي بِكُلِّ خَيْرٍ، كَانَ فِي آخِرِ دُعَائِهِ أَنْ قَالَ: «اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ، وَبَارِكْ لَهُ».
Artinya:
Anas bin Malik رضي الله عنه berkata:
“Aku pernah masuk menemui Nabi ﷺ pada suatu hari. Ketika itu hanya ada aku, ibuku, dan Ummu Haram, bibiku. Kemudian Nabi ﷺ masuk menemui kami dan berkata, ‘Maukah aku shalat bersama kalian?’ Saat itu bukan waktu shalat wajib.
Salah seorang yang hadir bertanya, ‘Di manakah posisi Anas terhadap beliau?’ Dijawab, ‘Beliau menempatkannya di sebelah kanan beliau.’
Kemudian beliau shalat bersama kami. Setelah itu beliau mendoakan kami—keluarga tersebut—dengan segala kebaikan dunia dan akhirat.
Ibuku berkata, ‘Wahai Rasulullah, ini adalah pelayan kecilmu, maka doakanlah dia.’
Maka beliau mendoakanku dengan segala kebaikan. Dan di antara doa terakhir beliau adalah:
‘Ya Allah, perbanyaklah hartanya dan anaknya serta berkahilah dia.’” (Islam Web)
2. Sanad Hadits
Sanad yang terdapat dalam Al-Adab al-Mufrad no. 88 adalah:
الإمام البخاري → موسى بن إسماعيل → سليمان بن المغيرة → ثابت البناني → أنس بن مالك رضي الله عنه → النبي ﷺ
Secara lebih rinci:
1. مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ
Musa bin Isma’il at-Tabudzaki رحمه الله.
Beliau adalah salah seorang guru Imam al-Bukhari dan dikenal sebagai perawi yang kuat.
2. سُلَيْمَانُ بْنُ الْمُغِيرَةِ
Sulaiman bin al-Mughirah al-Qaisi رحمه الله.
Beliau termasuk perawi Bashrah yang tsiqah dan terkenal dalam periwayatan dari Tsabit al-Bunani.
3. ثَابِتٌ
Yang dimaksud adalah:
ثَابِتُ بْنُ أَسْلَمَ الْبُنَانِيُّ رحمه الله
Seorang tabi’in besar, ahli ibadah dan perawi terpercaya. Ia banyak meriwayatkan dari Anas bin Malik رضي الله عنه.
4. أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ رضي الله عنه
Sahabat Nabi ﷺ yang sangat terkenal. Anas menjadi khadim Rasulullah ﷺ selama kurang lebih sepuluh tahun.
Karena itu, hubungan antara Anas dan Nabi ﷺ sangat dekat. Hadits ini sekaligus merupakan salah satu bukti keutamaan Anas bin Malik رضي الله عنه.
3. Kedudukan Sanad
Sanad ini sangat kuat.
Sebab:
- Musa bin Isma’il adalah perawi terpercaya.
- Sulaiman bin al-Mughirah adalah perawi terpercaya.
- Tsabit al-Bunani adalah perawi terpercaya.
- Anas bin Malik adalah sahabat Nabi ﷺ.
Hadits ini juga memiliki syawahid dan mutaba’at yang sangat kuat, bahkan substansi doanya terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Muslim meriwayatkan jalur Sulaiman bin al-Mughirah → Tsabit → Anas dalam hadits no. 2481. (Marefa Sources)
Dengan demikian, hadits ini bukan sekadar hadits yang diterima karena jalur Al-Adab al-Mufrad, tetapi mempunyai penguat yang sangat kuat dari kitab-kitab Shahih.
4. Takhrij Hadits
Hadits ini mempunyai beberapa sumber penting.
A. Al-Adab al-Mufrad
Imam al-Bukhari meriwayatkannya dalam:
الأدب المفرد، كتاب الأدب، باب من دعا لصاحبه أن أكثر ماله وولده، حديث رقم 88
Babnya secara khusus berbunyi:
بَابُ مَنْ دَعَا لِصَاحِبِهِ أَنْ أَكْثَرَ مَالَهُ وَوَلَدَهُ
“Bab tentang orang yang mendoakan temannya agar diperbanyak harta dan anaknya.” (Islam Web)
B. Shahih Muslim
Imam Muslim meriwayatkan hadits ini dalam Shahih Muslim, Kitab Fadha’il ash-Shahabah, hadits no. 2481, dengan jalur:
زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ → هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ → سُلَيْمَانُ → ثَابِتٌ → أَنَسٌ
Redaksinya sangat dekat dengan hadits Al-Adab al-Mufrad. (Marefa Sources)
C. Shahih al-Bukhari
Dalam Shahih al-Bukhari juga terdapat riwayat tentang doa Nabi ﷺ kepada Anas:
اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ، وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ
“Ya Allah, perbanyaklah hartanya dan anaknya serta berkahilah apa yang Engkau berikan kepadanya.”
Riwayat ini terdapat dalam Shahih al-Bukhari no. 6334 dan juga diriwayatkan oleh Muslim. (Hadith Prophet)
Jadi, hadits ini shahih dengan derajat yang sangat kuat.
5. Status Hadits
صَحِيحٌ — SHAHIH
Bahkan dapat dikatakan:
Hadits ini shahih dan memiliki asal yang kuat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim.
Perlu diperhatikan bahwa nomor hadits dalam Al-Adab al-Mufrad berbeda dengan nomor dalam sebagian edisi Shahih al-Adab al-Mufrad. Namun substansi hadits ini memang memiliki penguat yang kuat dalam Shahihain.
6. Siapakah Anas bin Malik?
Anas bin Malik رضي الله عنه adalah salah seorang sahabat yang mendapatkan kedekatan luar biasa dengan Rasulullah ﷺ.
Ibunya, Ummu Sulaim رضي الله عنها, menyerahkan Anas untuk membantu Nabi ﷺ.
Karena itu Anas berkata bahwa Nabi ﷺ mendoakannya.
Doa tersebut kemudian benar-benar menjadi salah satu bentuk karamah dan keutamaan Anas.
Riwayat-riwayat lain menunjukkan bahwa Anas mendapatkan:
- harta yang banyak,
- anak dan keturunan yang banyak,
- umur yang panjang,
- serta keberkahan.
Ini penting: Nabi ﷺ tidak hanya berdoa:
اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ
tetapi juga:
وَبَارِكْ لَهُ
“Dan berkahilah dia.”
Di sinilah letak inti hadits.
7. Asbabul Wurud / Latar Belakang Hadits
Hadits ini tidak menunjukkan sebuah peristiwa yang muncul karena pertanyaan hukum tertentu.
Latar belakangnya adalah kedekatan Nabi ﷺ dengan keluarga Ummu Sulaim.
Anas menceritakan bahwa Nabi ﷺ datang menemui mereka. Kemudian beliau menawarkan:
أَلَا أُصَلِّي بِكُمْ؟
“Tidakkah aku shalat bersama kalian?”
Saat itu bukan waktu shalat wajib. Nabi ﷺ kemudian melakukan shalat bersama mereka.
Anas ditempatkan di sebelah kanan Nabi ﷺ. Setelah shalat, Nabi ﷺ mendoakan keluarga tersebut.
Kemudian Ummu Sulaim berkata:
يَا رَسُولَ اللَّهِ، خُوَيْدِمُكَ، ادْعُ اللَّهَ لَهُ
“Wahai Rasulullah, ini adalah pelayan kecilmu, maka doakanlah dia.”
Maka Nabi ﷺ mendoakan Anas dengan berbagai kebaikan, termasuk:
اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ، وَبَارِكْ لَهُ
(Sunnah)
8. Makna “خُوَيْدِمُكَ”
Ummu Sulaim berkata:
خُوَيْدِمُكَ
Secara bahasa merupakan bentuk tashghir dari خَادِم.
Artinya kurang lebih:
“Pelayan kecilmu.”
Ini bukan penghinaan terhadap Anas.
Justru ungkapan tersebut menunjukkan kelembutan dan kedekatan emosional.
Ummu Sulaim seolah berkata:
“Wahai Rasulullah, anak kecil yang selama ini membantu dan melayani Anda ini, mohon Anda doakan.”
Ini juga menunjukkan bahwa orang tua boleh meminta kepada orang saleh untuk mendoakan anaknya.
9. Fiqih Hadits
A. Bolehnya mendoakan orang lain
Hadits ini menjadi dalil bahwa seorang Muslim dianjurkan mendoakan saudaranya.
Bahkan Nabi ﷺ mendoakan:
أَهْلَ الْبَيْتِ بِكُلِّ خَيْرٍ مِنْ خَيْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
“Dengan segala kebaikan dunia dan akhirat.”
Jadi doa tidak harus selalu meminta urusan akhirat.
Kita boleh mendoakan:
- kesehatan,
- rezeki,
- pekerjaan,
- keluarga,
- anak,
- kesuksesan,
- ilmu,
- keberkahan hidup.
10. Bolehkah Mendoakan Orang Agar Banyak Harta?
Boleh.
Ini salah satu pelajaran terpenting dari hadits.
Nabi ﷺ sendiri berdoa:
اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ
“Ya Allah, perbanyaklah hartanya.”
Maka anggapan bahwa memiliki banyak harta selalu bertentangan dengan kesalehan tidak benar.
Yang menjadi masalah bukan banyaknya harta.
Yang menjadi masalah adalah:
bagaimana harta itu diperoleh, untuk apa digunakan, dan bagaimana hati memperlakukannya.
Harta yang banyak tetapi halal dan berkah dapat menjadi sarana ibadah.
11. Banyak Harta Tidak Sama dengan Tidak Zuhud
Ini perlu dibedakan.
Zuhud bukan berarti tidak memiliki harta.
Zuhud adalah ketika:
الدُّنْيَا فِي يَدِكَ وَلَيْسَتْ فِي قَلْبِكَ
“Dunia berada di tanganmu, bukan menguasai hatimu.”
Maka seseorang bisa kaya tetapi zuhud.
Sebaliknya, seseorang bisa miskin tetapi sangat cinta dunia.
Karena itu Nabi ﷺ mendoakan Anas:
أَكْثِرْ مَالَهُ
tetapi sekaligus:
وَبَارِكْ لَهُ
Yang dibutuhkan bukan sekadar banyak, tetapi banyak dan berkah.
12. Mengapa “Banyak” Harus Disertai “Berkah”?
Perhatikan struktur doa:
اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ، وَبَارِكْ لَهُ
Ada dua permintaan:
Pertama:
أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ
“Perbanyaklah harta dan anaknya.”
Kedua:
وَبَارِكْ لَهُ
“Dan berkahilah dia.”
Ini memberikan pelajaran yang sangat dalam:
Kuantitas tanpa keberkahan belum tentu menjadi kebaikan.
Seseorang bisa memiliki:
Rp10 miliar tetapi tidak pernah merasa cukup.
Sebaliknya seseorang bisa memiliki harta yang jauh lebih sedikit tetapi:
- halal,
- mencukupi,
- menenangkan,
- bermanfaat,
- membuatnya semakin dekat kepada Allah.
Itulah barakah.
13. Banyak Anak: Bukan Sekadar Kuantitas
Nabi ﷺ juga mendoakan:
وَلَدَهُ
“Anak-anaknya.”
Ini menunjukkan bahwa memiliki keturunan adalah salah satu nikmat dunia yang boleh diminta.
Namun doa Nabi tidak berhenti pada jumlah.
Dalam riwayat lain terdapat:
وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ
“Dan berkahilah apa yang Engkau berikan kepadanya.” (Hadith Prophet)
Maka yang ideal bukan sekadar:
banyak anak, tetapi:
banyak anak + anak yang saleh + keluarga yang harmonis + keberkahan.
14. Keterkaitan dengan QS. Al-Furqan: 74
Allah berfirman:
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan dan keturunan kami sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.’”
QS. Al-Furqan: 74.
Ayat ini menunjukkan bahwa keluarga dan keturunan merupakan bagian dari kenikmatan yang boleh dimohonkan kepada Allah.
Bedanya:
Hadits Anas menekankan:
كثرة المال والولد + البركة
Al-Qur’an menekankan:
قُرَّةَ أَعْيُنٍ
Jadi konsep Islam bukan sekadar:
“Ya Allah, banyakkan anak.”
Tetapi:
“Ya Allah, berikan keturunan yang menjadi penyejuk hati.”
15. Keterkaitan dengan QS. At-Taghabun: 15
Allah berfirman:
إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
“Sesungguhnya harta dan anak-anak kalian hanyalah cobaan, dan di sisi Allah pahala yang besar.”
Di sini ada keseimbangan.
Hadits:
اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ
mengajarkan bahwa harta dan anak boleh diminta.
QS. At-Taghabun: 15 mengingatkan bahwa harta dan anak juga dapat menjadi fitnah/ujian.
Jadi:
Harta adalah nikmat apabila dikelola dengan iman, tetapi menjadi fitnah apabila membuat seseorang lalai dari Allah.
Demikian pula anak.
16. Keterkaitan dengan QS. Al-Anfal: 28
Allah berfirman:
وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
“Hendaklah kalian mengetahui bahwa harta dan anak-anak kalian hanyalah cobaan, dan sesungguhnya di sisi Allah pahala yang besar.”
Maka doa:
أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ
harus dibaca bersama:
وَبَارِكْ لَهُ
Karena semakin besar nikmat, semakin besar pula tanggung jawab.
17. Keterkaitan dengan Hadits Lain
Ada hadits Nabi ﷺ:
إِنَّكَ أَنْ تَذَرَ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَذَرَهُمْ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ
“Sesungguhnya engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan berkecukupan lebih baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan miskin sehingga mereka meminta-minta kepada manusia.”
Hadits ini menunjukkan bahwa kecukupan ekonomi keluarga adalah sesuatu yang positif dalam Islam.
Karena itu, seorang Muslim tidak perlu merasa bersalah hanya karena ingin:
- memiliki bisnis yang maju,
- mendapatkan penghasilan yang besar,
- memiliki rumah yang layak,
- menyekolahkan anak dengan baik,
- mempunyai tabungan,
- atau meninggalkan warisan.
Yang penting adalah halal dan berkah.
18. Hubungan dengan Hadits “Tangan di Atas”
Nabi ﷺ bersabda:
الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى
“Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah.”
Maknanya antara lain bahwa seorang Muslim idealnya memiliki kemampuan untuk memberi.
Untuk menjadi orang yang banyak memberi, tentu seseorang membutuhkan kemampuan ekonomi.
Karena itu kekayaan yang halal dapat menjadi sarana:
memperbanyak sedekah → membantu fakir miskin → membiayai pendidikan → membangun masjid → membantu dakwah → menolong keluarga.
19. Pelajaran tentang Mendoakan Kesuksesan Orang Lain
Hadits ini juga mengajarkan akhlak sosial yang sangat tinggi.
Nabi ﷺ tidak memiliki mental:
“Kalau dia kaya, berarti saya kalah.”
Sebaliknya Nabi ﷺ mendoakan:
أَكْثِرْ مَالَهُ
“Ya Allah, perbanyaklah hartanya.”
Ini merupakan terapi terhadap penyakit:
- iri,
- hasad,
- dengki,
- persaingan tidak sehat,
- senang melihat orang lain gagal.
Seorang Muslim yang baik justru mampu mengatakan:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُ
“Ya Allah, berkahilah dia.”
20. Relevansi dengan Dunia Kerja dan Bisnis
Hadits ini sangat relevan dengan kehidupan profesional.
Misalnya seorang teman mendapatkan:
- promosi jabatan,
- bisnis yang berkembang,
- pelanggan yang banyak,
- keuntungan besar,
- rumah baru,
- kendaraan baru,
- anak yang lahir,
- proyek yang berhasil.
Daripada mengatakan:
“Kok dia terus yang berhasil?”
Islam mengajarkan:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُ
“Ya Allah, berkahilah dia.”
Kemudian kita meminta:
اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي مِنْ فَضْلِكَ
“Ya Allah, rezekilah aku dari karunia-Mu.”
Ini mengubah kompetisi menjadi fastabiqul khairat.
21. Perbedaan “Banyak” dan “Berkah”
Ini inti kajian yang sangat penting.
| Banyak | Berkah |
|---|---|
| Banyak uang | Uang halal dan bermanfaat |
| Banyak anak | Anak saleh dan membahagiakan |
| Banyak pelanggan | Pelanggan yang baik dan hubungan yang sehat |
| Banyak jabatan | Jabatan yang membawa maslahat |
| Banyak ilmu | Ilmu yang diamalkan |
| Banyak waktu | Waktu yang digunakan untuk kebaikan |
| Banyak umur | Umur yang penuh amal saleh |
Maka doa seorang Muslim seharusnya tidak berhenti:
“Ya Allah, banyakkan.”
Tetapi:
“Ya Allah, banyakkan dan berkahilah.”
22. Mengapa Nabi Mendoakan Anas dengan Harta dan Anak?
Karena harta dan anak pada dasarnya bukan sesuatu yang buruk.
Yang buruk adalah apabila keduanya membuat seseorang:
- lupa kepada Allah,
- sombong,
- zalim,
- bakhil,
- lalai,
- melakukan maksiat.
Ibn Hajar ketika menjelaskan doa Nabi kepada Anas mengaitkan hal ini dengan kenyataan bahwa banyak harta dan anak bisa menjadi fitnah jika tidak disertai penjagaan dari dampak buruknya. (sunna.alifta.gov.sa)
Maka doa Nabi ﷺ sekaligus mengajarkan bahwa kenikmatan dunia harus ditemani keberkahan dan perlindungan Allah.
23. Keutamaan Anas bin Malik
Hadits ini juga merupakan manqib atau keutamaan Anas رضي الله عنه.
Doa Nabi ﷺ terhadap Anas ternyata memiliki dampak luar biasa dalam kehidupannya.
Nabi ﷺ mendoakan:
أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ
dan doa tersebut menjadi bagian dari keistimewaan Anas.
Ini menunjukkan salah satu keutamaan mendapatkan doa dari orang saleh, terlebih lagi doa Rasulullah ﷺ.
24. Adab Meminta Doa
Ummu Sulaim tidak berkata:
“Anas harus kaya!”
Tetapi:
ادْعُ اللَّهَ لَهُ
“Doakanlah dia.”
Ini menunjukkan adab yang sangat indah.
Manusia berusaha, tetapi hasil berada di tangan Allah.
Karena itu dalam kehidupan:
ikhtiar + doa + tawakkal + ridha terhadap ketentuan Allah.
25. Faidah-Faidah Hadits
Dari hadits ini kita dapat mengambil banyak pelajaran:
1. Disunnahkan mendoakan orang lain
Terutama keluarga, sahabat, murid, teman kerja dan orang-orang yang berjasa kepada kita.
2. Boleh mendoakan kekayaan
Dengan syarat kekayaan tersebut halal dan membawa kebaikan.
3. Boleh mendoakan banyak anak
Karena keturunan merupakan nikmat Allah.
4. Harta bukan sesuatu yang haram pada dirinya
Yang menentukan adalah cara memperoleh dan menggunakannya.
5. Keberkahan lebih penting daripada sekadar jumlah
الْبَرَكَةُ أَهَمُّ مِنَ الْكَثْرَةِ
“Keberkahan lebih penting daripada sekadar banyak.”
6. Orang tua boleh meminta orang saleh mendoakan anaknya
Sebagaimana Ummu Sulaim meminta Nabi ﷺ mendoakan Anas.
7. Mendoakan kesuksesan orang lain adalah akhlak mulia
Bukan hanya mendoakan diri sendiri.
8. Nabi ﷺ memperhatikan anak-anak dan generasi muda
Anas ketika itu masih muda.
9. Harta dan anak dapat menjadi sarana kebaikan
Jika dikelola dengan benar.
10. Harta dan anak juga dapat menjadi ujian
Karena itu harus selalu disertai doa keberkahan.
11. Islam tidak mengajarkan anti-kekayaan
Islam mengajarkan kekayaan yang halal, produktif, dan berkah.
12. Doa seorang Nabi merupakan nikmat besar
Anas mendapatkan doa khusus dari Rasulullah ﷺ.
26. Pesan Akhlak yang Sangat Dalam
Kalau hadits ini dibaca secara lebih luas, ada satu pendidikan akhlak yang sangat penting:
Jangan takut melihat orang lain sukses.
Ketika teman kita berhasil, jangan langsung muncul:
“Kenapa bukan saya?”
Latih diri untuk mengatakan:
بَارَكَ اللَّهُ لَهُ
“Semoga Allah memberkahinya.”
Kemudian:
اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي مِنْ فَضْلِكَ
“Ya Allah, karuniakanlah kepadaku dari keutamaan-Mu.”
Inilah perbedaan antara ghibthah dan hasad.
Ghibthah: “Saya ingin mendapatkan kebaikan seperti dia tanpa berharap nikmatnya hilang.”
Hasad: “Saya tidak suka dia mendapatkan nikmat dan berharap nikmat itu hilang.”
Hadits Nabi ﷺ mendidik kita menuju yang pertama.
27. Kesimpulan Fiqih Hadits
Hadits ini dapat dirumuskan dalam beberapa kaidah:
الدُّعَاءُ لِلْغَيْرِ بِخَيْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ مِنَ الْأَخْلَاقِ الْمَحْمُودَةِ
“Mendoakan orang lain dengan kebaikan dunia dan akhirat termasuk akhlak yang terpuji.”
Dan:
كَثْرَةُ الْمَالِ وَالْوَلَدِ لَيْسَتْ مَذْمُومَةً فِي ذَاتِهَا
“Banyaknya harta dan anak pada dirinya sendiri bukan sesuatu yang tercela.”
Namun harus dilengkapi:
وَالْمَدَارُ عَلَى الْبَرَكَةِ وَحُسْنِ الِاسْتِعْمَالِ
“Yang menjadi ukuran adalah keberkahan dan bagaimana nikmat tersebut digunakan.”
28. Inti Pesan Hadits untuk Kehidupan Modern
Kalau hadits ini dibawa ke konteks kehidupan sekarang, rumusnya sangat sederhana:
Jangan hanya mengejar banyak. Kejarlah berkah.
Banyak uang → berkah.
Banyak pelanggan → berkah.
Banyak jabatan → berkah.
Banyak ilmu → berkah.
Banyak murid → berkah.
Banyak anak → berkah.
Banyak usia → berkah.
Banyak pengikut → berkah.
Sebab yang dicari seorang Muslim bukan sekadar:
الكَثْرَةُ — banyaknya
tetapi:
الْبَرَكَةُ — keberkahannya.
Dan itulah mengapa doa Nabi ﷺ sangat indah:
اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ، وَبَارِكْ لَهُ
“Ya Allah, perbanyaklah hartanya dan anaknya, serta berkahilah dia.”
Jadi, hadits nomor 88 Al-Adab al-Mufrad bukan sekadar hadits tentang mendoakan seseorang agar kaya dan memiliki banyak anak. Lebih dalam dari itu, hadits ini mengajarkan filosofi Islam tentang nikmat: kita boleh meminta kelimpahan, tetapi kelimpahan itu harus berada di bawah naungan keberkahan Allah.
Dan karena hadits ini diriwayatkan pula dalam Shahih Muslim dan memiliki asal dalam Shahih al-Bukhari, maka kedudukannya sangat kuat dan layak dijadikan landasan dalam pembahasan adab mendoakan sesama. (dorar.net)