Posted in

Maqalah ke-19 Bab Tiga Perkara

(وَ) الْمَقَالَةُ التَّاسِعَةَ عَشْرَةَ (عَنْ يَحْيَى بْنِ مُعَاذٍ الرَّازِيّ) الْوَاعِظُ لَهُ لِسَانٌ فِي الرَّجَاءِ خُصُوصًا وَكَلَامٌ فِي الْمَعْرِفَةِ، خَرَجَ إِلَى بَلْخٍ وَأَقَامَ بِهَا مُدَّةً وَرَجَعَ إِلَى نَيْسَابُورَ وَمَاتَ بِهَا سَنَةَ ثَمَانٍ وَخَمْسِينَ وَمِائَتَيْنِ (طُوبَى لِمَنْ تَرَكَ الدُّنْيَا قَبْلَ أَنْ تَتْرُكَهُ) أَيْ الْخَيْرُ الْكَثِيرُ لِمَنْ صَرَفَ أَمْوَالَهُ فِي أَنْوَاعِ الْبِرِّ قَبْلَ ذَهَابِهَا عَنْهُ (وَبَنَى قَبْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَدْخُلَهُ) بِأَنْ عَمِلَ مَا فِيهِ تَوْنِيْسٌ فِي الْقَبْرِ (وَأَرْضَى رَبَّهُ) بِامْتِثَالِ أَمْرِهِ وَاجْتِنَابِ نَهْيِهِ (قَبْلَ أَنْ يَلْقَاهُ) بِالْمَوْتِ.

Maqalah yang kesembilan belas(dari Yahya bin Mu‘adz ar-Razi), seorang ulama yang banyak memberikan nasihat, khususnya mengenai raja’ (harapan kepada Allah), dan juga banyak berbicara tentang ma‘rifat. Beliau pernah pergi ke Balakh dan tinggal di sana selama beberapa waktu. Kemudian beliau kembali ke Naisabur dan wafat di sana pada tahun 258 H.

“Berbahagialah orang yang meninggalkan dunia sebelum dunia meninggalkannya.”

Maksudnya, sungguh beruntung dan memperoleh kebaikan yang besar orang yang menggunakan hartanya untuk berbagai macam amal kebajikan sebelum harta itu meninggalkannya, yakni sebelum harta tersebut habis atau ia meninggal dunia sehingga tidak lagi dapat menggunakannya.

“Dan membangun kuburnya sebelum ia memasukinya.”

Maksudnya, ia melakukan berbagai amal yang akan menjadi sebab kenyamanan dan ketenteraman baginya di dalam kubur, sebelum ia benar-benar masuk ke dalamnya.

“Dan membuat Tuhannya rida sebelum ia bertemu dengan-Nya.”

Maksudnya, ia berusaha mendapatkan keridaan Allah dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, sebelum tiba saatnya ia berjumpa dengan Allah melalui kematian.

Makna keseluruhan

Nasihat Yahya bin Mu‘adz ar-Razi ini mengajarkan bahwa orang yang cerdas adalah orang yang mempersiapkan kehidupan akhirat sebelum kematian datang. Dunia jangan sampai menjadi tujuan akhir, tetapi hendaknya dijadikan sarana untuk memperoleh bekal menuju akhirat.

Ada tiga persiapan yang ditekankan:

  1. Meninggalkan dunia sebelum dunia meninggalkan kita — menggunakan harta, waktu, kesehatan, dan kesempatan untuk berbuat kebajikan sebelum semuanya hilang.
  2. Membangun kubur sebelum memasukinya — bukan dengan membangun fisik kubur, tetapi dengan memperbanyak amal saleh yang akan menjadi penerang dan penenteram kehidupan di alam kubur.
  3. Mencari rida Allah sebelum bertemu dengan-Nya — dengan menaati perintah Allah, meninggalkan larangan-Nya, serta memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.

Intinya, jangan menunggu kematian untuk mulai mempersiapkan akhirat. Selagi masih hidup, gunakan dunia sebagai ladang amal dan jadikan setiap kesempatan sebagai bekal untuk bertemu Allah dalam keadaan diridai-Nya.

1. «طُوبَى لِمَنْ تَرَكَ الدُّنْيَا قَبْلَ أَنْ تَتْرُكَهُ»

“Berbahagialah orang yang meninggalkan dunia sebelum dunia meninggalkannya.”

Kata طُوبَى (ṭūbā) bermakna kebahagiaan, kebaikan dan keberuntungan yang besar.

Yang dimaksud “meninggalkan dunia” bukan berarti seseorang harus berhenti bekerja, tidak boleh kaya, tidak boleh memiliki rumah, kendaraan, usaha atau keluarga.

Yang ditinggalkan adalah ketergantungan hati kepada dunia.

Seseorang boleh memiliki dunia di tangannya, tetapi jangan sampai dunia menguasai hatinya.

Allah berfirman:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ

“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kalian, serta berlomba dalam kekayaan dan anak-anak…” (QS. Al-Hadid: 20). (Quran.com)

Allah kemudian memberikan perumpamaan yang sangat indah: tanaman yang tumbuh setelah hujan, terlihat indah, kemudian menguning, kering dan akhirnya hancur.

Artinya, dunia itu bukan masalah karena ia ada, tetapi masalah ketika kita lupa bahwa ia akan hilang.

Apa maksud “sebelum dunia meninggalkannya”?

Ada orang yang baru mau beramal setelah tua.

“Kalau sudah pensiun saya akan banyak sedekah.”

“Nanti kalau sudah kaya saya akan membantu pesantren.”

“Nanti kalau sudah tidak sibuk saya akan banyak mengaji.”

Masalahnya, “nanti” bukan milik kita.

Kita tidak tahu apakah umur panjang, kesehatan panjang, kekayaan panjang, atau kesempatan panjang.

Allah bahkan menggambarkan penyesalan manusia ketika kematian telah datang:

رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

“Wahai Tuhanku, sekiranya Engkau menangguhkan aku sebentar saja, niscaya aku akan bersedekah dan menjadi termasuk orang-orang saleh.” (QS. Al-Munafiqun: 10). (Quran.com)

Tetapi permintaan itu sudah terlambat. Ayat berikutnya menegaskan bahwa ketika ajal datang, Allah tidak akan menundanya. (Quran.com)

Secara logis

Kita sering berkata:

“Saya memiliki uang.”

Padahal yang lebih tepat:

“Saya sedang dititipi uang.”

Kita berkata:

“Saya memiliki kesehatan.”

Padahal kesehatan adalah amanah.

Kita berkata:

“Ini rumah saya.”

Padahal suatu saat rumah itu akan menjadi milik orang lain.

Bahkan jasad yang kita banggakan pun akhirnya akan kembali menjadi tanah.

Karena itu, orang cerdas bukan orang yang berhasil mengumpulkan dunia sebanyak-banyaknya, tetapi orang yang berhasil mengubah dunia yang sementara menjadi bekal yang kekal.


2. «وَبَنَى قَبْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَدْخُلَهُ»

“Dan membangun kuburnya sebelum ia memasukinya.”

Ini adalah ungkapan metaforis yang sangat indah.

Kita semua tahu bahwa secara fisik kubur belum bisa “dibangun” oleh seseorang untuk dirinya dalam makna yang dimaksud Yahya bin Mu‘adz.

Yang dibangun adalah kenyamanan dan keselamatan di dalam kubur melalui amal saleh.

Karena itu penjelasan yang Anda berikan sangat tepat:

بِأَنْ عَمِلَ مَا فِيهِ تُوْنِيْسٌ فِي الْقَبْرِ

“Dengan melakukan amal-amal yang menjadi sebab ketenteraman di dalam kubur.”

Jadi, sebelum tubuh masuk ke dalam kubur, amal-amal kita sudah lebih dahulu masuk ke sana.

Ini sejalan dengan firman Allah:

وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

“Dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr: 18). (Quran.com)

Perhatikan kata قَدَّمَتْ — qaddamat, “telah mengirimkan terlebih dahulu”.

Seolah-olah manusia sedang mengirimkan bekal menuju masa depan sebelum dirinya tiba di sana.

Itulah hakikat amal.

Hadits Nabi ﷺ

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ

“Apabila manusia meninggal, terputus amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631). (Sunnah)

Hadits ini sangat relevan dengan maqālah tersebut.

Sebelum kita memasuki kubur, mari kita tinggalkan sesuatu yang tetap bekerja untuk kita setelah kita tidak lagi bekerja.

Misalnya:

  • membangun masjid;
  • membantu pembangunan pesantren;
  • mewakafkan Al-Qur’an;
  • mengajarkan ilmu;
  • menulis buku yang bermanfaat;
  • mendidik anak menjadi saleh;
  • membantu orang miskin;
  • membuat program sosial;
  • menanamkan ilmu kepada murid.

Kita memang mati, tetapi pahala dari kebaikan tertentu terus berjalan.

Secara logis, inilah investasi paling unik dalam kehidupan.

Investasi dunia biasanya berhenti ketika pemiliknya meninggal.

Tetapi dalam konsep sedekah jariyah dan ilmu yang bermanfaat, seseorang telah meninggalkan “aset pahala” yang tetap mengalir setelah kematiannya. (Sunnah)


3. «وَأَرْضَى رَبَّهُ قَبْلَ أَنْ يَلْقَاهُ»

“Dan meraih keridhaan Tuhannya sebelum bertemu dengan-Nya.”

Inilah puncak dari seluruh maqālah.

Bukan sekadar meninggalkan dunia.

Bukan sekadar membangun kubur.

Tetapi mempersiapkan perjumpaan dengan Allah.

Caranya sebagaimana dijelaskan dalam syarah:

بِامْتِثَالِ أَمْرِهِ وَاجْتِنَابِ نَهْيِهِ

“Dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.”

Ini adalah hakikat takwa.

Allah berfirman:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang bertakwa.” (QS. Ali ‘Imran: 133). (Quran.com)

Ayat ini menggunakan kata وَسَارِعُوا — bersegeralah.

Mengapa harus segera?

Karena kita tidak tahu berapa lama kesempatan itu masih tersedia.


4. Tiga “sebelum” dalam maqālah ini

Kalau direnungkan, Yahya bin Mu‘adz sebenarnya sedang mengajarkan manajemen kehidupan berdasarkan kesadaran akan kematian.

Pertama:

تَرَكَ الدُّنْيَا قَبْلَ أَنْ تَتْرُكَهُ

Meninggalkan dunia sebelum dunia meninggalkannya.

Maknanya:

Gunakan harta sebelum harta hilang.


Kedua:

بَنَى قَبْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَدْخُلَهُ

Membangun kubur sebelum memasukinya.

Maknanya:

Siapkan amal sebelum kesempatan beramal berakhir.


Ketiga:

أَرْضَى رَبَّهُ قَبْلَ أَنْ يَلْقَاهُ

Mencari ridha Allah sebelum bertemu dengan-Nya.

Maknanya:

Perbaiki hubungan dengan Allah sebelum datang waktu pertanggungjawaban.

Jadi struktur maqālah ini sangat sistematis:

Dunia → Kubur → Pertemuan dengan Allah.

Dan kehidupan manusia memang bergerak melalui tiga fase tersebut.


5. Mengapa dunia harus digunakan sebelum meninggalkan kita?

Ada satu hadits yang sangat tepat untuk menjelaskan hal ini.

Rasulullah ﷺ bersabda kepada Abdullah bin Umar:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.” (HR. Bukhari no. 6416). (Sunnah)

Musafir tidak membangun rumah permanen di setiap tempat yang ia lewati.

Tetapi apakah seorang musafir tidak membutuhkan makanan, kendaraan dan tempat beristirahat?

Tentu membutuhkan.

Bedanya adalah:

Ia menggunakan semua itu sebagai sarana perjalanan, bukan menjadikannya tujuan perjalanan.

Begitulah seharusnya seorang Muslim terhadap dunia.

Dunia di tangan, akhirat di hati.


6. Jangan menunggu kaya untuk bersedekah

Maqālah ini juga mengandung kritik terhadap kebiasaan manusia yang selalu menunda kebaikan.

“Saya belum mampu.”

“Nanti kalau sudah banyak.”

“Nanti kalau bisnis sudah besar.”

“Nanti kalau sudah tua.”

Padahal Al-Qur’an memerintahkan:

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ

“Infakkanlah sebagian dari apa yang Kami rezekikan kepada kalian sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kalian…” (QS. Al-Munafiqun: 10). (Korpus Alquran)

Perhatikan: sebelum kematian datang.

Bukan setelah kaya.

Bukan setelah pensiun.

Bukan setelah semua kebutuhan terpenuhi.

Tetapi sebelum ajal datang.


7. “Membangun kubur” dengan amal

Jika maqālah ini diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, maka pertanyaannya bukan:

“Apa yang sudah saya miliki?”

Tetapi:

“Apa yang sudah saya kirimkan ke akhirat?”

Rumah yang kita bangun di dunia mungkin akan ditempati anak-anak kita.

Mobil yang kita beli mungkin akan dijual.

Uang yang kita simpan mungkin akan diwariskan.

Jabatan yang kita banggakan akan digantikan.

Tetapi amal saleh yang ikhlas menjadi bekal bagi kita.

Karena itu QS. Al-Hasyr: 18 memerintahkan setiap orang untuk melihat apa yang telah ia persiapkan untuk “besok”. (Quran.com)


8. Logika sederhana maqālah ini

Bayangkan seseorang akan melakukan perjalanan jauh.

Ia tahu perjalanan itu pasti terjadi, tetapi tidak tahu kapan berangkatnya.

Apa yang dilakukan orang yang cerdas?

Ia menyiapkan tiket, uang, pakaian, makanan, dokumen dan kebutuhan lainnya sebelum berangkat.

Tidak masuk akal jika setelah sampai di bandara ia berkata:

“Tunggu sebentar, saya mau pulang mengambil tiket.”

Kematian pun demikian.

Yang membedakan adalah:

Perjalanan dunia bisa ditunda; perjalanan menuju akhirat tidak.

Kita boleh menunda membeli rumah.

Boleh menunda membeli kendaraan.

Tetapi kita tidak bisa menunda datangnya ajal ketika waktunya telah tiba.


9. Jangan sampai dunia meninggalkan kita dalam keadaan belum berbuat

Ada orang yang sepanjang hidupnya sibuk mengumpulkan bekal untuk hidup, tetapi lupa mengumpulkan bekal untuk setelah hidup.

Ia mengejar uang, tetapi lupa sedekah.

Ia mengejar jabatan, tetapi lupa amanah.

Ia mengejar popularitas, tetapi lupa keikhlasan.

Ia membangun rumah besar, tetapi lupa membangun amal.

Ia sibuk memperindah rumah dunia, tetapi lupa mempersiapkan tempat kembali.

Inilah yang ingin dicegah oleh Yahya bin Mu‘adz.

Bukan dunia yang harus dibenci, tetapi kelalaian terhadap akhirat yang harus dibenci.


10. Inti pendidikan spiritual maqālah

Maqālah ini pada akhirnya mengajarkan tiga kecerdasan manusia:

1. Cerdas mengelola dunia

Memiliki harta tetapi tidak diperbudak harta.

2. Cerdas mempersiapkan kematian

Mengubah umur, kesehatan, ilmu dan harta menjadi amal.

3. Cerdas mempersiapkan pertemuan dengan Allah

Menjalankan perintah, meninggalkan larangan, memperbanyak taubat dan memperbaiki hati.

Karena orang yang benar-benar sadar akan kematian akan mengubah cara dia hidup.


Kesimpulan

Maqālah Yahya bin Mu‘adz ar-Razi ini dapat diringkas dalam satu kalimat:

Jangan menunggu dunia meninggalkanmu untuk kemudian meninggalkan dunia; jangan menunggu masuk kubur untuk kemudian memikirkan bekal kubur; dan jangan menunggu bertemu Allah untuk kemudian berharap mendapatkan ridha-Nya.

Selagi masih sehat, beramallah.

Selagi masih memiliki harta, bersedekahlah.

Selagi masih memiliki ilmu, ajarkanlah.

Selagi masih memiliki kesempatan, berbuat baiklah.

Selagi masih hidup, bertaubatlah.

Sebab ketika kematian datang, kesempatan untuk beramal berhenti. Yang tersisa hanyalah apa yang sudah kita “kirimkan” terlebih dahulu.

Dan barangkali inilah makna terdalam dari maqālah tersebut:

Jangan hanya mempersiapkan kehidupan yang akan segera berakhir. Persiapkan pula kehidupan yang tidak akan pernah berakhir.

Karena dunia pasti meninggalkan kita. Kubur pasti kita masuki. Dan perjumpaan dengan Allah pasti terjadi.

Pertanyaannya bukan “apakah kita akan bertemu Allah?”

Tetapi:

“Ketika kita bertemu Allah nanti, apakah Allah ridha kepada kita?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *