1. Teks Matan Hadits nomor 8
عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا أَنْفَقَ الرَّجُلُ عَلَى أَهْلِهِ يَحْتَسِبُهَا فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ.
(قَوْلُهُ: عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ) وَهُوَ عُقْبَةُ بْنُ عَمْرٍو -بِفَتْحِ الْعَيْنِ وَسُكُونِ الْمِيمِ- ابْنُ ثَعْلَبَةَ الْأَنْصَارِيُّ الْخَزْرَجِيُّ الْبَدْرِيُّ، الْمُتَوَفَّى بِالْكُوفَةِ أَوْ بِالْمَدِينَةِ، قَبْلَ الْأَرْبَعِينَ، أَوْ سَنَةَ إِحْدَى أَوْ اثْنَتَيْنِ وَأَرْبَعِينَ، وَقِيلَ فِي خِلَافَةِ عَلِيٍّ، وَقِيلَ آخِرَ خِلَافَةِ مُعَاوِيَةَ.
(قَوْلُهُ: إِذَا أَنْفَقَ الرَّجُلُ) أَيْ دَرَاهِمَ أَوْ غَيْرَهَا فَحُذِفَ الْمَعْمُولُ لِيُفِيدَ الْعُمُومَ: أَيْ أَيَّ نَفَقَةٍ كَانَتْ صَغِيرَةً أَوْ كَبِيرَةً. وَقَوْلُهُ: (عَلَى أَهْلِهِ) أَيْ عِيَالِهِ مِنْ زَوْجَةٍ وَوَلَدٍ وَسَائِرِ مَنْ يُنْفِقُ عَلَيْهِ وُجُوبًا.
(قَوْلُهُ: يَحْتَسِبُهَا) أَيْ يُرِيدُ بِهَا وَجْهَ اللهِ تَعَالَى، وَهَذِهِ الْجُمْلَةُ حَالِيَّةٌ. قَالَ الْقُرْطُبِيُّ: أَفَادَ مَنْطُوقُ الْحَدِيثِ أَنَّ الْأَجْرَ بِالْإِنْفَاقِ إِنَّمَا يَحْصُلُ بِقَصْدِ الْقُرْبَةِ سَوَاءً كَانَتْ وَاجِبَةً أَوْ غَيْرَهَا. وَأَفَادَ مَفْهُومُهُ أَنَّ مَنْ لَمْ يَقْصِدِ الْقُرْبَةَ لَمْ يُؤْجَرْ، لَكِنْ تَبْرَأُ ذِمَّتُهُ مِنَ النَّفَقَةِ الْوَاجِبَةِ، وَكَذَا سَائِرُ الْأَعْمَالِ الَّتِي لَا تَتَوَقَّفُ صِحَّتُهَا عَلَى النِّيَّةِ. وَأَمَّا مَا يَتَوَقَّفُ صِحَّتُهُ عَلَيْهَا فَإِنَّهُ لَا يُثَابُ عَلَى عَمَلِهِ حَيْثُ لَمْ يَقْصِدِ الْقُرْبَةَ أَوْ لَمْ يَقْصِدْ بِهَا الْقُرْبَةَ وَلَا عَدَمَهَا.
(قَوْلُهُ: فَهِيَ) أَيْ النَّفَقَةُ، وَفِي رِوَايَةٍ (فَهُوَ) أَيْ الْإِنْفَاقُ، وَ (لَهُ) مُتَعَلِّقٌ بِـ (صَدَقَةٌ)، وَضَمِيرُهُ عَائِدٌ عَلَى الرَّجُلِ.
(قَوْلُهُ: صَدَقَةٌ) أَيْ كَالصَّدَقَةِ فِي الثَّوَابِ، فَالتَّشْبِيهُ وَاقِعٌ عَلَى أَصْلِ الثَّوَابِ، وَلَيْسَ الْمُرَادُ أَنَّهَا صَدَقَةٌ حَقِيقَةً، وَإِلَّا لَحَرُمَتْ عَلَى الْهَاشِمِيِّ وَالْمُطَّلِبِيِّ. وَالصَّارِفُ لَهُ عَنِ الْحَقِيقَةِ الْإِجْمَاعُ، وَهَذَا الْحَدِيثُ ذَكَرَهُ الْبُخَارِيُّ فِي بَابِ مَا جَاءَ أَنَّ الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ.
2. Terjemahan
Hadis:
Dari Abu Mas’ud, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Jika seorang laki-laki memberi nafkah kepada keluarganya dengan mengharap pahala (dari Allah), maka nafkah itu baginya adalah sedekah.”
Penjelasan Syarah:
- (Dari Abu Mas’ud): Dia adalah ‘Uqbah bin ‘Amr (dengan huruf ‘Ain yang difathah dan Mim yang disukun), putra dari Tsa’labah Al-Anshari Al-Khazraji Al-Badri. Beliau wafat di Kufah atau di Madinah; ada yang berpendapat sebelum tahun 40 H, atau tahun 41 H, atau tahun 42 H. Ada pula yang mengatakan beliau wafat pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, dan pendapat lain menyebutkan pada akhir masa kekhalifahan Muawiyah.
- (Jika laki-laki memberi nafkah): Maksudnya baik berupa dirham atau selainnya. Objeknya dihapus untuk memberikan makna umum, yakni nafkah apa pun baik kecil maupun besar.
- (Kepada keluarganya): Yaitu orang-orang yang menjadi tanggungannya seperti istri, anak, dan semua orang yang wajib ia nafkahi.
- (Dengan mengharap pahala/Yathtasibuha): Maksudnya mengharap wajah (ridha) Allah Ta’ala. Kalimat ini berkedudukan sebagai hal (penjelas keadaan). Al-Qurthubi berkata: “Makna tersurat (manthuq) dari hadis ini menunjukkan bahwa pahala infak hanya didapat jika ada niat mendekatkan diri kepada Allah (qurbah), baik nafkah itu wajib atau sunnah. Sedangkan makna tersiratnya (mafhum) menunjukkan bahwa siapa yang tidak berniat qurbah, maka ia tidak mendapat pahala, namun kewajiban nafkahnya sudah gugur (bebas tanggungan). Begitu juga dengan amal-amal lain yang sahnya tidak bergantung pada niat. Adapun amal yang sahnya bergantung pada niat, maka pelakunya tidak diberi pahala jika tidak berniat qurbah atau tidak berniat apa-apa sama sekali.”
- (Maka ia/Fahia atau Fahuwa): Merujuk pada nafkah atau perbuatan memberi nafkah tersebut.
- (Adalah sedekah): Maksudnya “serupa dengan sedekah dalam hal pahala”. Penyerupaan ini terletak pada pokok pahalanya. Bukan berarti nafkah itu adalah sedekah secara hakiki (zakat/sedekah wajib), sebab jika itu sedekah hakiki, maka akan haram dikonsumsi oleh keluarga Nabi (Bani Hasyim dan Bani Muthallib). Hal yang memalingkan makna ini dari makna hakiki adalah kesepakatan ulama (ijma’). Hadis ini disebutkan oleh Al-Bukhari dalam bab “Amal itu tergantung niat”.
3. Penjelasan Intisari
Teks ini merupakan syarah (penjelasan) dari hadis populer tentang pentingnya niat dalam amal ibadah, khususnya dalam urusan domestik seperti menafkahi keluarga. Berikut poin-poin pentingnya:
- Niat sebagai Penentu Pahala: Menafkahi keluarga adalah kewajiban hukum, namun ia baru berubah menjadi nilai ibadah yang berpahala jika disertai niat mencari rida Allah (ihtisab).
- Gugurnya Kewajiban vs Perolehan Pahala: Jika seseorang memberi nafkah tanpa niat (hanya sekadar menggugurkan kewajiban atau kebiasaan), maka secara hukum Islam ia sudah tidak berdosa (tanggungannya gugur), namun ia kehilangan potensi pahala sedekah.
- Makna “Sedekah” di Sini: Kata sedekah dalam hadis ini bermakna majaz (perumpamaan). Nafkah kepada istri/anak tetaplah nafkah secara hukum, namun Allah memberinya reward yang setara dengan orang yang bersedekah sunnah kepada orang asing.
- Keluarga adalah Prioritas: Hadis ini memotivasi para kepala keluarga bahwa lelahnya mereka mencari nafkah bukan sekadar rutinitas duniawi, melainkan ladang pahala yang sangat besar jika dikelola dengan hati yang tulus.
